Minggu, 18 Maret 2012

19 Maret - HARI RAYA ST YUSUP, SUAMI ST MARIA


HARI RAYA ST YUSUP, SUAMI ST MARIA

2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" .

Yusuf adalah keturunan Daud, orang sederhana dan hidup sebagai tukang kayu. Sebagaimana tukang kayu pada umumnya memang harus hidup sederhana, pendapatan atau imbal jasa yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sangat tergantung dari orang yang lain akan memberi pekerjaan. Maka cirikhas seorang tukang kayu yang baik adalah senantiasa menggantungkan diri pada kebaikan dan kemurahan hati Allah melalui orang-orang yang memberi tugas atau pekerjaan kepadanya. Seorang tukang kayu yang baik juga senantiasa berusaha mengerjakan tugas atau pesanan sebaik mungkin, agar hasil karya atau kerjanya memuaskan dan membahagiakan orang lain dan kemudian orang yang bersangkutan akan memberi pekerjaan kepadanya lagi atau mungkin akan menceriterakan kepada teman dan kenalannya perihal sang tukang kayu yang baik tersebut serta menganjurkan untuk 'memakai' tukang kayu tersebut jika memiliki kebutuhan yang terkait dengan kayu. Yusuf juga dikenal sebagai orang baik, suci dan mulia, antara lain tidak pernah mengecewakan atau mencemarkan nama baik orang lain. Sebagai keturunan Daud ia dipilih oleh Allah untuk berpartisipasi dalam pemenuhan janjiNya, yaitu menyelamatkan dunia; ia dipanggil untuk mengambil Maria, sebagai isterinya, yang telah mengandung karena atau dari Roh Kudus. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St Yusuf hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dengan cermin St.Yusuf.

"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus." (Mat 1:20).

Allah telah berjanji kepada Raja Daud bahwa kerajaannya akan kekal dan menjadi besar serta akan sangat berpengaruh di dunia. Janji yang dimaksudkan tidak lain adalah bahwa Allah akan mendatangi manusia dengan menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, yaitu Pribadi Kedua, Allah Putera, yang diutus untuk memenuhi janjiNya. Allah telah memilih Maria, gadis sederhana, untuk menjadi pekerjasama dalam pemenuhan janjiNya dengan mengandung seorang anak dari Roh Kudus. Maria tidak termasuk dalam keturunan Daud, maka Allah minta Yusuf, keturunan Daud, untuk mengambil Maria sebagai isterinya, dan dengan demikian anak yang dikandung Maria menjadi 'keturunan Daud' secara yuridis.

Yesus, Sang Penyelamat Dunia, yang lahir dari rahim Maria, adalah manusia dan sekaligus juga Allah, secara yuridis Ia adalah keturunan Daud, tetapi de facto Ia dikandung Maria karena Roh Kudus, maka Ia juga tetap Allah. Memang apa yang terjadi sulit dipahami oleh pikiran atau otak kita yang serba terbatas dan hanya dapat diimani. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladan Yusuf, yang tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya, alias memasukkannya dalam kalangan kaum terpilih oleh Allah. Kita dipanggil untuk menarik dan mengajak saudara-saudari kita bergabung ke dalam paguyuban umat beriman, berpartisipasi dalam aneka kegiatan umat beriman.

Hendaknya kita jangan takut untuk mendekati, mengajak dan merangkul saudara-saudari kita yang kurang atau tidak beriman menjadi semakin beriman. Secara konkret hal itu berarti mendekati saudara-saudari kita yang berdosa untuk diajak bertobat atau memperbaharui diri. Kesatuan atau kebersamaan hidup umat beriman atau beragama tidak diikat oleh suku, ras atau keturunan melainkan oleh iman atau ajaran agamanya. Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa agama-agama muncul melalui seorang di suatu tempat atau suku tertentu, namun dalam kenyataan saat ini pengikut agama tertentu terdiri dari aneka suku dan bangsa. Marilah kita dalam dan dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara; kita hayati aneka aturan dan tata tertib hidup bersama dalam dan dengan iman. Aneka tata tertib dan aturan hemat saya dibuat dan diberlakukan atau diundangkan dengan maksud atau tujuan agar siapapun yang setia melaksanakan aturan atau tata tertib tersebut semakin beriman, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Allah, semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya.

"Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Rm 4:16-18)

Sebagai orang beriman kita semua adalah keturunan Abraham, bapa umat beriman, bukan secara phisik melainkan secara spiritual, bukan karena usaha atau jerih payah kita melainkan karena kasih karunia Allah. "Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap dan percaya", demikian dikatakan perihal bapa Abraham. Harapan dan percaya merupakan keutamaan umat beriman, yang harus dihayati dan disebarluaskan.

Apa yang menjadi harapan memang tak kelihatan atau belum jelas, kalau kelihatan dan sudah jelas berarti bukan harapan atau tidak dapat menjadi harapan lagi. Sebagai contoh: dari jauh dan ada di depan kelihatan seorang gadis berbaju merah, maka sang jejaka tergerak untuk mendekatinya dengan harapan gadis tersebut pasti cantik, mempesona dan menarik. Namun begitu didekati ternyata hanya baju merahnya yang menarik, sedangkan wajah dan postur tubuh sang gadis tersebut ternyata tak cantik dan tak mempesona. Anda semua kiranya memiliki harapan yang menggairahkan, maka hendaknya kerja keras tanpa kenal lelah mewujudkan apa yang menjadi harapan agar menajadi kenyataan. Secara konkret kami berharap kepada para pelajar atau mahasiwa untuk belajar sungguh-sungguh, agar sukses dalam belajar, demikian juga para pekerja sungguh bekerja keras agar sukses dalam kerja.

Percaya juga berarti mengandalkan diri pada apa yang belum kita lihat atau saksikan dengan mata kepada sendiri. Dalam hal percaya ini kiranya kita semua mempunyai banyak pengalaman konkret, misalnya ketika masih anak-anak kita diberi ceritera oleh orangtua atau ibu kita dengan mudah kita mempercayai apa yang ia ceriterakan, kita percaya kepada apa yang diajarkan atau diberitahukan oleh para guru/pendidik/dosen/pengarjar, meskipun kita belum melihat apa yang diajarkan atau diberitahukan, kita percaya pada petunjuk jalan, dst… Maka hendaknya kita juga percaya pada Penyelenggaran Ilahi, itulah jati diri hidup beriman.

Percaya, harapan dan cinta itulah tiga keutamaan yang utama, yang tak dapat dipisahkan. Orang yang berharap dan percaya pada umumnya secara otomatis akan mencinta, hidup dan bertindak saling mencintai. Cinta itu bebas alias tidak terbatas, maka sebagai orang beriman kami ajak untuk hidup dan bertindak saling mencintai tanpa pandang bulu. Sekali lagi saya angkat bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain namun saling tertarik, terpesona dan terpikat untuk saling mendekat dan mencintai. Maka hendaknya aneka perbedaan antar kita menjadi daya tarik, daya pesona dan daya pikat untuk saling mendekat dan mencintai.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5)

  Ign 19 Maret 2012     

    


Sabtu, 17 Maret 2012

Minggu Prapaska IV


Minggu Prapaska IV :2Taw 36:14-16.19-23; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21

"Barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah"

"Anak kancil lari berkejar. Dimakan singa di tengah hutan. Dari hal kecil sampai hal besar. Pasrahkan saja kepada Tuhan", demikian bunyi sebuah pantun karya Bp.Paulus Lion BA. Kancil termasuk binatang yang lincah dalam berlari, sedangkan singa juga dapat berlari dengan kencang ketika mengejar mangsanya. Singa tubuhnya memang lebih besar daripada kancil. Binatang-binatang ini di Taman Safari di Afrika Selatan, yang begitu luas, hidup dengan bebas di tengah padang rumput dan hutan, sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi/Tuhan. Mereka mencari makan sendiri alias tidak perlu diberi makan, sebagaimana terjadi di kebun binatan atau Taman Safari di Indonesia. Dengan kata lain sebagai binatang-binatang mereka sungguh tangguh dan handal dalam mempertahankan hidup, tetapi harap diketahui bahwa populasi kancil lebih besar daripada singa dan memang kancil-kancil tersebut menjadi makanan bagi singa. Meskipun dimakan oleh singa jumlah kancil tak berkurang. Di dalam Tamah Safari yang sungguh masih alami ini memang dapat diketemukan kebenaran-kebenaran sebagaimana dikehendaki oleh Allah, antara lain binatang-binatang, ciptaan Allah, dengan bebas dan penuh tanggungjawab mengusahakan dirinya agar tetap hidup, sehat dan tegar, tangguh dan mendalam di lingkungan hidupnya. "Beriman Tangguh dan Mendalam", itulah tema Novena ke 8 di Seminari Menengah Mertoyudan, Minggu 18 Maret 2012, yang akan dipimpin oleh Mgr.Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang, dalam rangka merayakan 100 tahun Seminari Mertoyudan. Maka marilah kita mawas diri sesuai dengan tema tersebut.

"Barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah" (Yoh 3:20-21).

Sebagai orang beriman atau beragama kita dipanggil untuk senantiasa melakukan apa yang benar dan baik. Memang mengingat dan memperhatikan kehidupan bersama masa kini yang masih diwarnai oleh kemesorotan moral hampir di semua bidang kehidupan, melakukan apa yang benar dan baik harus memiliki iman yang tangguh dan mendalam, sehingga tahan dan tabah dalam menghadapi aneka rayuan atau godaan setan dalam aneka bentuk dan situasi maupun kondisi. Untuk memperoleh iman yang tangguh dan mendalam orang harus terus menerus membiasakan diri menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta godaan dalam iman. Dengan kata lain iman harus terus menerus digosok dengan aneka tantangan.

"Tangguh adalah sikap dan perilaku yang sukar dikalahkan dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan suatu tujuan dan cita-cita tertentu. Ini diwujudkan dalam perilaku yang tetap tabah dan tahan terhadap berbagai cobaan dan tantangan untuk mencapai tujuan atau cita-cita. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri" (Prof Dr Edi Seedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 27). Selama anak-anak, remaja atau muda-mudi masih dalam proses pembelajaran atau pembinaan kami harapkan sungguh diperhatikan perihal pembelajaran atau pembinaan ketangguhan ini. Maka kepada para orangtua, guru/pendidik, pendamping atau pembina kami harapkan untuk sering memasukkan anak-anak, remaja atau muda-mudi ke dalam aneka cobaan dan tantangan, dan tentu saja juga harus didampingi terus menerus. Hadapkan dan berilah cobaan dan tantangan yang dapat mereka atasi, dan kemudian sedikit demi sedikit cobaan dan tantangan diperbesar, sehingga mereka semakin tangguh dan terampil dalam menghadapi dan menyelesaikan cobaan dan tantangan. Kami harapkan anak-anak, remaja dan muda-mudi dijauhkan dari aneka macam bentuk pemanjaan.

Ketika seseorang memiliki ketangguhan, maka ia juga akan dengan mudah untuk memperdalam apa yang diketahui. Dalam hal mendalam kami harapkan merenungkan ajakan St.Ignatius Loyola ini, yaitu "Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa" (St Ignatius Loyola, LR no 2). Maka sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru/pendidik maupun pendamping atau pembina tidak terjebak untuk memberi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada anak-anak, peserta didik atau binaan, melainkan kedalaman atas pengetahuan. Secara khusus kami mengingatkan para pengelola atau pelaksana pendidikan/sekolah untuk lebih mengutamakan kedalaman  atau kwalitas pengetahuan daripada kwantitas pengetahuan (maklum di Indonesia ini kurikulum di sekolah-sekolah begitu gemuk dan kurang langsing, sehingga peserta didik tidak lincah dan cekatan bergerak atau melangkah, demikian juga ketika mereka menjadi orang dewasa.

"Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Ef 2:8-10)

Sebagai orang beriman tangguh dan mendalam diharapkan senantiasa melakukan pekerjaan baik dengan murah hati dimana pun dan kapan pun, dalam situasi dan kondisi apapun. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, sedangkan murah hati berarti senantiasa menjual murah hatinya alias siap sedia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu, SARA. Orang beriman tangguh dan mendalam hemat saya dapat ditugaskan dimana saja dan kapan saja, dan ia pasti mampu melaksanakan tugas dengan baik dan benar.

Paulus juga mengingatkan kita semua bahwa iman maupun segala perwujudan atau penghayatan iman merupakan 'pemberian Allah', anugerah Allah, bukan hasil usaha kita manusia yang lemah dan rapuh ini. Paulus sendiri sebagai rasul agung, yang beriman tangguh dan mendalam telah menghayati kebenaran iman tersebut, maka karena dimana saja dan kapan saja ia senantiasa melakukan pekerjaan baik, sebagai penghayatan imannya yang telah dianugerahkan Allah, ia tak pernah takut dan gentar menghadapi aneka macam cobaan dan ancaman untuk dibunuh. Hidup dan bertindak dalam dan bersama dengan Allah tidak ada ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun.

"Mereka membakar rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api, sehingga musnahlah segala perabotannya yang indah-indah" (2Taw 36:19). Kutipan ini mengingatkan saya akan peristiwa pembakaran dan perusakan gedung gereja dan sekolah-sekolah katolik beberapa tahun lalu yang terjadi di Situbondo. Di tengah-tengah kehancuran dan penghagusan gedung gereja dan sekolah beserta semua perabotnya ada seorang pengurus dewan paroki/Gereja yang dengan rendah hati berujar "gedung gereja, gedung sekolah dengan segala isinya dibakar, dan hatiku pun dibakar untuk mencinta". Ungkapan macam itu kiranya muncul dari orang yang sungguh beriman tangguh dan mendalam. Penghancuran dan pembakaran harta benda dan aneka sarana-prasarana duniawi membakar iman, harapan dan cinta, sehingga iman, harapan dan cintanya semakin murni, tangguh dan mendalam. Hidup beriman atau beragama yang utama dan pokok adalah keselamatan jiwa, bukan keselamatan phisik atau harta benda.

"Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!" (Mzm 137:1-6)

Ign 18 Maret 2012


Jumat, 16 Maret 2012

17 Maret


"Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini"

(Hos 6:1-6; Luk 18:9-14)

"Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 18:9-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu" (Dekrit Konjen SJ ke 32, art 2.1), demikian penyadaran diri para Yesuit yang berkumpul untuk mawas diri perihal jati diri dan panggilannya di dunia ini. Kutipan ini saya angkat setelah membaca dan merenungkan isi Warta Gembira hari ini. Dalam Warta Gembira hari ini Yesus mengitrik atau mengingatkan mereka yang menyombongkan diri serta melecehkan orang lain. Jika kita berani mawas diri dengan jujur dan benar kita pasti akan menyadari dan menghayati diri bahwa semakin tambah usia, semakin tua, semakin berpengalaman berarti juga semakin tambah dosa dan kekurangannya, maka ada sombong jika kita tidak menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa. Sekiranya ada kebaikan atau keutamaan dalam diri kita sungguh merupakan anugerah Allah, maka jika demikian adanya hendaknya hidup dan bertindak dengan rendah hati. Kerendahan hati adalah kebalikan dari kesombongan, dan kerendahan hati merupakan keutamaan yang utama dan pertama-tama harus kita hayati dan sebarluaskan. Maka marilah kita meneladan si pemungut cukai yang dengan rendah hati berdoa "Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini". Marilah kita hayati dan fungsikan keutamaan atau kebaikan yang ada dalam diri kita untuk 'peduli dan berbagi' kepada yang lain, solider kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Kita sadari dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah serta kemudian kita fungsikan untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah melalui saudara-saudari kita.

·   "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hos 6:1-3) . Tuhan Allah adalah Maha Rahim dan Maha Pengampun, maka dalam keadaan atau situasi dan kondisi macam apapun, marilah kita menghadapiNya, karena Ia "seperti hujan di akhir musim yang mengairi bumi", Ia akan menyegarkan kita yang lesu, menggairahkan kita yang putus asa, mengampuni kita yang berdosa, menuntun kita menelusuri jalan yang baik dan benar, dst… Kita semua dipanggil untuk bertobat, artinya siap sedia untuk diperbaharui atau memperbaharui diri menuju ke arah yang lebih baik, lebih dekat dan bersahabat dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi-saksi kehadiran dan karya Tuhan Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, sehingga kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa juga bagaikan 'hujan pada akhir musim yang mengairi bumi", kehadiran dan sepak terjang kita menghidupkan dan menggairahkan orang lain yang kita jumpai atau yang hidup dan bekerja bersama dengan kita. Air hujan sungguh jernih dan bersih, maka jika kehadiran dan sepak terjang kita bagaikan air hujan juga berarti kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa membersihkan yang kotor, menyernihkan yang samar-samar, dst..  Bukankah fungsi air adalah membersihkan dan memberi tenaga, membuat lega dan damai? Marilah kita kenangkan pembaptisan kita masing-masing dimana dahi atau otak kita dicurahi air, dengan harapan agar kita senantiasa berpikir jernih dan bersih.

" Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem! Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya" (Mzm 51:18-21b)

Ign 17 Maret 2012


Kamis, 15 Maret 2012

16 Maret


"Hukum manakah yang paling utama?"
(Hos 14:2-10; Luk 12:28-34)
" Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus." (Luk 12:28-34), demikian kutipan  Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Semua tata tertib, peraturan atau hukum hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan atas dasar dan demi cintakasih, maka jika anda mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat, kami harapkan menyikapi dan melaksanakan aneka tata tertib, peraturan dan hukum dalam dan dengan cintakasih. Berbicara perihal cintakasih dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan, hemat kami kita dapat bercermin pada suami-isteri yang saling mengasihi. Bukankah para suami dan isteri memiliki pengalaman cintakasih, sebagaimana diajarkan oleh Yesus, yaitu mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, yang secara konkret dihayati dengan saling telanjang bulat satu sama lain dalam hubungan seksual? Dengan kata lain hubnngan seksual yang baik dan benar sungguh merupakan wujud cintakasih yang paling kentara dan mudah difahami. Maka kami berharap kepada para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam penghayatan hukum yang utama yaitu saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka. Selanjutnya kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita merupakan buah cintakasih, buah kerjasama cintakasih, kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini hanya karena cintakasih dan kerjasama. Maka selayaknya kita kemudian senantiasa hidup dalam cintakasih dan kerjasama. Jika ada sesuatu yang kurang sesuai dengan selera pribadi alias menjadi 'musuh', kasihilah dan jangan dibenci atau dijauhi. Segala sesuatu didekati dan disikapi dalam dan oleh cintakasih pasti akan menjadi sahabat atau saudara. Hidup dalam cintakasih berarti juga hidup dalam 'ketelanjangan', arinya tiada sesuatu pun yang dirahasiakan antar kita, semuanya 'transparan'.
·   "Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ" (Hos 14:10). Kata bahasa Latin bijaksana adalah 'sapiens', yang dapat berarti bijaksana, arif, penuh pengertian, paham. Maka orang bijaksana berarti juga orang yang penuh pengertian pada serta dapat memahami orang lain. Sekali lagi kami angkat, bukankah pengalaman saling penuh pengertian dan memahami ini sebenarnya terjadi dalam relasi antar suami-isteri yang saling mengasihi, sehingga yang berbeda satu sama lain dapat hidup bersama sampai mati? Saya yakin anda sebagai suami dan isteri saling penuh pengertian dan memahami akan keunggulan, kelebihan, kekurangan, kelemahan anda, termasuk juga dalam hal yang bersifat pribadi seperti hubungan seksual. Saling penuh pengertian dan memahami hemat saya merupakan salah satu bentuk mengikuti jalan-jalan Tuhan yang lurus. Dengan kata lain mengikuti jalan-jalan Tuhan juga harus senantiasa berujud lurus, tidak munafik dan manipulasi. Jika anda berjuan untuk mengasihi hendaknya tetap setia mengasihi, jika anda bertugas belajar hendaknya tekun dan setia belajar, demikian juga jika anda pekerja hendaknya tekun dan setia bekerja, dst.. Ketekunan dan kesetiaan anda dapat menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, di satu pihak butuh penuh pengertian dan pemahaman, di lain pihak memperteguh dan memperdalam pengertian dan pemahaman anda. Marilah kita dengan tekun dan setia menelusuri atau menempuh jalan-jalan atau cara-cara hidup yang baik dan benar, agar tidak terjatuh dan tak tergelincir.
"Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada waktu Ia maju melawan tanah Mesir. Aku mendengar bahasa yang tidak kukenal: "Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba.  Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mzm 81:6-9)
Ign 16 Maret 2012
 

15 Maret


"Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa"
(Yer 7:23-28; Luk 11:14-23)
" Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." (Luk 11:14-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan masih maraknya kebencian dan balas dendam melalui aneka cara dan bentuk, entah antar suku, partai, golongan maupun pribadi. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk membangun, memperdalam dan menyebarluaskan pesaudaraan atau persahabatan sejati. Untuk itu antara lain hendaknya kita jangan mudah irihati pada keberhasilan, kesuksesan dan keunggulan orang lain, sebagaimana terjadi dalam diri salah seorang yang menyaksikan mujizat, yang dilakukan oleh Yesus, yaitu pengusiran setan. "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan", demikian sabda Yesus. Bersama Yesus, Tuhan, berarti senantiasa hidup baik, berbudi pekerti luhur dan bermoral, serta tidak pernah melakukan kejahatan sedikitpun, termasuk melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia. Bersama dengan Tuhan berarti juga mampu melihat dan mengimani karya Tuhan dalam diri kita sendiri maupun dalam diri saudara-saudari kita, antara lain menjadi nyata dalam perbuatan-perbuatan atau perilaku baik, yang menyelamatkan jiwa manusia atau perbuatan yang mengusir aneka bentuk kejahatan atau pelanggaran moral. Karya Tuhan dalam diri manusia juga menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak, yang senantiasa mengusahakan dan memperjuangkan hidup persaudaraan atau persahabatan sejati, dalam diri orang yang suka mengampuni dan tidak pernah mengingat-ingat atau memperhitungkan kesalahan atau kekurangan orang lain.
·   "Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia" (Yer 7:23). Kita semua kiranya mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera selama hidup  di dunia ini maupun di akhirat nanti. Cara utama dan pertama-tama untuk mengusahakan hidup bahagia dan damai sejahtera adalah senantiasa melaksanakan atau mengikuti seluruh jalan yang telah diperintahkan oleh Tuhan. Jalan-jalan yang diperintahkan oleh Tuhan antara lain kita terima melalui aneka macam nasihat, saran, petunjuk, arahan dari orang-orang yang berkehendak baik dimana pun dan kapan pun. Kami percaya di dunia ini lebih banyak orang yang berkehendak baik daripada yang berkehendak jahat, memang sering ada perbedaan kehendak baik sekilas, maka baiklah jika kita saling mendengarkan kehendak baik kita untuk kemudian kita sinerjikan atau kita olah dan hayati bersama. Saling mendengarkan dengan rendah hati juga merupakan modal atau kekuatan untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Pendengar yang baik pada umumnya juga pendamai, orang yang cinta akan persaudaraan atau persahabatan sejati. Kami berharap para orangtua atau bapak-ibu sungguh dapat menjadi teladan bagi anak-anak dalam saling bersahabat dan mendengarkan. Semoga antar bapak dan ibu, suami dan isteri, tidak terjadi perbedaan pendapat dan selera yang mengarah ke perpecahan atau perpisahan. Jadikan dan hayati apa yang berbeda antar kita sebagai daya tarik, daya pesona, daya pikat untuk mengenal dan bersahabat, sebagaimana terjadi antar laki-laki dan perempuan, yang berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, terpesona dan terpikat.
"Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku"
 (Mzm 95:6-9)
Ign 15 Maret 2012

Selasa, 13 Maret 2012

14 Maret


" Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya"

(Ul 4:1.5-9; Mat 5:17-19)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jika dicermati dalam kehidupan bersama masa kini dapat kita temukan sekian banyak aturan atau tata tertib yang dibuat dan diberlakukan, namun pelaksanaannya boleh dipertanyakan. Sebagai contoh: rambu-rambu lalu lintas terpampang jelas di jalanan dan dengan demikian juga dapat dilihat dan dibaca dengan jelas, namun dengan seenaknya saja para pengguna jalan melanggar rambu-rambu tersebut. Apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kualitas bangsa atau warganegara, maka kiranya boleh disimpulkan bahwa pelaksanaan atau penghayatan tata tertib atau aturan di negeri kita ini sungguh memprihatinkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita senantiasa lebih mengutamakan atau mengedepankan pelaksanaan atau penghayatan daripada wacana atau omongan, sedikit bicara banyak bertindak. Keunggulan hidup beragama atau beriman hemat saya terletak dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam wacana, pengetahuan, diskusi atau omongan. "Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata" (St Ignatius Loyola, LR no 230). Dalam hal cinta hal ini antara lain diwujudkan dalam pemborosan waktu dan tenaga bagi yang tercinta/terkasih, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga kita bagi yang terkasih atau tercinta. Ketika di dalam tempat kerja atau tugas berarti harus memboroskan waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugas/pekerjaan, ketika di sekolah sedang belajar berarti memboroskan waktu dan tenaga untuk belajar, dst… Ketika sedang membaca berarti mengarahkan waktu dan tenaga terhadap apa yang dibaca. Semoga mereka yang berpengaruh di dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam pelaksanaan tata tertib atau aturan. Dan secara khusus kepada segenap umat Katolik kami ajak untuk mewujudkan tema APP tahun ini, yaitu berbagi dan peduli kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

·   "Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi." (Ul 4:5-6). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa setia melaksanakan aneka ketetapan, peraturan atau tata tertib. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya kita setia pada janji baptis, sebagai orang yang berjanji saling mengasihi sebagai suami isteri, hendaknya setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, sebagai orang yang telah berkaul triprasetia (keperawanan, ketaatan dan kemiskinan) hendaknya setia menghayati kaul, dst..  Hidup setia sebagai yang terpanggil pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, dan hemat saya juga merupakan cara 'marketing' atau pewartaan yang handal.  Kami berharap para bapak-ibu, sebagai suami-isteri dapat menjadi teladan kesetiaan pada anak-anaknya, para imam menjadi teladan kesetiaan pada umatnya, para pemimpin menjadi teladan kesetiaan bagi anggota atau bawahannya, dst…Hendaknya tidak melakukan pencurian, penyelewengan sedikitpun atas janji yang telah diikrarkan.

"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu" (Mzm 147:12-13.15-16)

Ign 14 Maret 2012