Rabu, 17 November 2010

18 Nov - Why 5:1-10; Luk 19:41-44

"Engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."

(Why 5:1-10; Luk 19:41-44)

 

"Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."(Luk 19:41-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa masing-masing dari kita tidak tahu kapan dipanggil Allah atau meninggal dunia; kita dapat dipanggil Allah setiap saat, kapan saja dan dimana saja. Jika kita dipanggil Allah kiranya kita mendambakan kemudian hidup damai sejahtera dan mulia selama-lamanya di sorga bersama Allah yang telah menciptakan kita. Karena kita tidak tahu kapan meninggal dunia, maka hendaknya kita senantiasa siap sedia, tahu dan menghayati apa yang perlu untuk hidup damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur kapanpun dan dimanapun. Kami berharap masing-masing dari kita secara pribadi dengan bersungguh-sungguh berusaha hidup baik dan berbudi pekerti luhur, namun karena keterbatasan kita masing-masing baik kita bekerjasama, terutama dan saudara-saudari atau mereka yang hidup dan bekerja dekat dengan kita setiap hari, misalnya dengan segenap anggota keluarga atau rekan kerja/belajar. Di dalam keluarga hendaknya orangtua dapat menjadi teladan hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga dapat mendampingi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan. Anak-anak adalah anugerah Tuhan maka selayaknya dididik dan didampingi sesuai dengan kehendak Tuhan. Pengalaman hidup baik dan berbudi pekerti luhur di dalam keluarga kemudian dapat dikembangkan dan diperdalam baik di sekolah maupun tempat kerja. Jika kita sungguh dalam keadaan siap sedia sewaktu-waktu dipanggil Allah alias meninggal dunia, maka pada detik-detik terakhir hidup kita, kita akan berdoa seperti penjahat yang disalibkan bersama Yesus:"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."(Luk 23:42), dan menerima jawaban "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23-43)

·   "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."(Why 5:9-10), demikian nyanyian baru bagi mereka yang telah hidup mulai kembali di sorga, setelah meninggal dunia. Nyanyian ini kiranya juga menjadi nyata atau terwujud dalam diri orang yang sungguh baik dan berbudi pekerti luhur selama hidup dunia ini. Orang baik dan berbudi pekerti luhur 'telah dibeli bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa' alias hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah bukan tradisi-tradisi atau kebiasaan-kebiasaan suku maupun bangsa yang tidak baik. Orang-orang baik dan berbudi pekerti luhur juga 'menjadi imam-imam bagi Allah dan akan memerintah sebagai raja di bumi', dengan kata lain ia dapat menjadi penyalur rahmat, anugerah dan kasih karunia Allah kepada sesama manusia dimanapun dan kapanpun. Maka marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita hayati panggilan imamat umum kaum beriman, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat menjadi berkat atau rahmat bagi sesama, dan kita sendiri semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Orang baik dan berbudi pekerti luhur dengan enak dan gembira dapat membuka 'gulungan kitab', artinya dengan enak dan gembira melakukan apa yang baik dan berbudi pekerti luhur. Kehadiran, sepak terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Marilah kita hidup dan bertindak dalam dambaan hidup damai sejahtera, sehat wal'afiat baik seeara phisik maupun spiritual.

 

"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mzm 149:1-4)

   

Jakarta, 18 November 2010


Selasa, 16 November 2010

17 Nov - Why 4:1-11; Luk 19:11-28

"Setiap orang yang mempunyai kepadanya akan diberi tetapi siapa yang tidak mempunyai dari padanya akan diambil"

(Why 4:1-11; Luk 19:11-28)


"Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan……..Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem."(Luk 19:11.26-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Elisabeth dari Hungaria, biarawati, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Perkembangan masing-masing dari kita setelah mengarungi perjalanan hidup dan tugas pengutusan sampai saat ini kiranya ada dua kemungkinan, yaitu semakin baik/suci/terampil/cerdas/rajin dst…atau semakin buruk/jahat/bodoh /malas dst.. Cukup menarik jika diperhatikan yaitu, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini, mereka yang baik/suci/terampil/cerdas/rajin dst. semakin baik/suci/terampil/cerdas/rajin, sedangkan mereka yang buruk/jahat/ bodoh/ malas dst..semakin buruk/jahat/bodoh/malas. Maka dengan ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri: apa yang terjadi dalam diri kita masing-masing. Kami berharap, karena cara hidup dan cara bertindak, kita semua tumbuh berkembang semakin baik/suci/termpil/cerdas/rajin, dst.. Dengan kata lain kita semakin siap sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, meninggal dunia, mendahului perjalanan untuk menghadap Bapa di sorga dan hidup selama-lamanya. Bukankah semakin tambah usia berarti juga semakin dekat kematian kita? Kami juga berharap kepada mereka yang mengalami kemandegan dalam hidup beriman untuk dengan rendah hati membuka diri, siap sedia untuk dirubah dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan kata lain mereka yang buruk kami harapkan memperbaiki diri, yang jahat bertobat, yang malas segera berlatih bekerja keras dan yang bodoh menyadari serta menghayati kebodohannya sambil siap sedia untuk diajar atau dibina. Dalam warta gembira hari ini Yesus mengumpamakan anugerah yang telah kita terima bagaikan mata uang: uang agar dapat bertambah harus 'berjalan-jalan' alias difungsikan, tidak disimpan di bawah bantal atau di brankas. 'Jalankan' anugerah Allah yang anda terima dalam hidup sehari-hari, apapun bentuk anugerah Allah tersebut!


·   "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Why 4:11). Doa ini kiranya baik sering kita doakan, renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Segala sesuatu yang ada di dunia, di bumi ini adalah ciptaan Allah, dapat tumbuh berkembang bersama Allah, tanpa Allah tidak dapat tumbuh berkembang sebagaimana diharapkan atau dicita-citakan. Sebagai ciptaan Allah kita diharapkan hidup dan bertindak dengan memuji, menghormati, memuliakan dan melayani Allah melalui ciptaan-ciptaanNya terutama melalui ciptaanNya yang terluhur di bumi ini, manusia. Dengan kata lain sebagai umat beriman kita dipanggil untuk saling memuji, menghormati, memuliakan dan melayani, saling melihat dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Kebetulan hari ini kita merayakan St.Elisabet dari Hungaria, biarawati: salah satu cirikhas biarawati atau menggota lembaga hidup bakti adalah menjadi saksi hidup yang "sudah dikuduskan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (KHK kan 673). Maka kami berharap kepada para anggota lembaga hidup bakti, biarawan dan biarawati, dapat menjadi teladan dalam hal hidup yang telah dikuduskan, yang antara lain juga ditandai dengan saling memuji, menghormati, memuliakan dan melayani. Para anggota lembaga hidup bakti memiliki kebiasaan untuk mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan di dalam ibadat harian, semoga juga menjadi nyata dengan memberi pujian kepada sesama manusia. Semoga suatu saat ketika kita dipanggil Tuhan juga dapat menjadi pujian bagi Tuhan, artinya mereka yang melayat kita dengan rendah hati dan jujur memuji hidup kita selama ini, sehingga kita layak memasuki 'Yerusalem abadi', hidup mulia di sorga selama-lamanya.

 

"Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!"

(Mzm 150)

Jakarta, 17 November 2010

  


16 Nov - Why 3:1-6.14-22; Luk 19:1-10

"Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

(Why 3:1-6.14-22; Luk 19:1-10)

 

"Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada dua tokoh yang kiranya baik menjadi bahan permenungan kita, yaitu 'Zakheus' dan 'orang kebanyakan': Zakheus yang tergerak untuk melihat dan bertemu dengan Yesus dan orang kebanyakan yang bersungut-sungut ketika melihat orang bertobat, tumbuh berkembang semakin baik, semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Menempatkan diri seperti Zakheus berarti kita diajak untuk menyadari dan menghayati bahwa segala harta benda atau kekayaan yang ada pada kita atau kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, yang telah kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau membantu tugas dan pelayanan kita. Yang layak menempatkan diri seperti Zakheus kiranya adalah mereka yang kaya akan uang atau harta benda, seperti para pengusaha atau para koruptor: ingat dan sadari bahwa kekayaan anda tak pernah terlepas dari jasa dan jerih payah para buruh atau pekerja alias rakyat keci, maka sejahterakan mereka sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan hidup sehari-hari yang layak. Ada kemungkinan kita menempatkan diri seperti orang banyak yang bersungut-sungut ketika melihat orang lain tumbuh berkembang menjadi baik, kaya atau sejahtera: kepada kita yang bersikap mental demikian saya ajak untuk bertobat dan merenungkan sabda Yesus, yaitu "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang". Berarti kita termasuk orang yang hilang, maka baiklah dengan rendah hati kita berani menyadari dan mengakui kelemahan, dosa dan kerapuhan kita serta kemudian bertobat seperti Zakheus dengan siap sedia mengorbankan diri demi kebahagiaan atau keselamatan sesama.


·   "Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." (Why 3:5-6). Kita akan menjadi pemenang yang unggul jika kita setia 'mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat'. Mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat berarti melihat, mengakui dan menghayati apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri sesama manusia, dan kemudian dengan rendah belajar  dari atau meneladan kebaikan, keindahan, keluhuran dan kemuliaannya. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk bersikap mental belajar sepanjang hayat, seumur hidup, sampai mati. Belajar tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi kita juga dapat belajar dari kehidupan dan aneka peristiwa yang terjadi setiap hari di lingkungan hidup kita. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang bersikap mental belajar terus-menerus sepanjang hayat sungguh unggul dan menjadi pemenang dalam panggilan maupun tugas pengutusannya, dalam karya atau usahanya. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: hendaknya jangan bangga akan aneka gelar atau ijazah yang telah diperolehnya, namun tidak terampil dalam mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan diketahuinya. Dengan kata lain marilah kita bekerja keras dalam melaksanakan segala sesuatu yang menjadi tugas pekerjaan atau kewajiban kita. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

 

"Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya." (Mzm 15:2-5)

 

Jakarta, 16 November 2010             


Minggu, 14 November 2010

15 Nov - Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43

"Melihatlah engkau!"

(Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43)

 

"Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah." (Luk 18:35-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada dua tokoh berdialog, yaitu Yesus dan seorang buta, maka sebagai refleksi kiranya kita dapat memilih seperti Yesus yang membuka mata orang buta sehingga dapat melihat atau sebagai orang buta yang telah disembuhkan. Bagi yang memilih seperti Yesus, saya ajak mawas diri: apakah cara hidup dan cara bertindak kita dapat  membuka mata hati, jiwa, akal budi dan tubuh orang untuk melihat siapa itu Tuhan dan sesama manusia dan apa itu harta benda, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Namun kiranya lebih mungkin dan lebih dekat jika kita menempatkan diri sebagai seorang buta, yang mendambakan penyembuhan agar dapat melihat segala sesuatu dengan benar, tepat dan jelas. Orang buta pada umumnya indera pendengarannya sangat peka, sehingga ia dapat mendengarkan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Dengan kata lain apakah masing-masing dari kita memiliki indera pendengaran yang baik, atau kita semakin peka mendengarkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita? Kami percaya jika kita dapat mendengarkan dengan baik apa yang ada disekitar hidup kita, maka kita pasti dirubah oleh apa yang kita dengarkan, dan saya percaya yang diperdengarkan di sekitar lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk, maka berarti kita semakin baik, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Dengan kata lain kami percaya bahwa kita semua semakin hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan 'sambil memuliakan Allah' dalam berbagai kesibukan dan pelayanan kita setiap hari. Maka marilah kita semakin hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, karena hal itu terjadi berkat kasih karunia Allah.


·   "Engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan"(Why 2:3-5a). Kutipan dari kitab Wahyu ini kiranya baik menjadi permenungan bagi kita semua. Di satu sisi mungkin kita sabar, dan di sisi lain 'meninggalkan kasih yang semula'. Apa yang dimaksudkan dengan kasih yang semula antara lain adalah panggilan utama/pokok atau tugas utama/pokok kita masing-masing. Dengan kata lain kita diingatkan untuk 'back to basic', kembali ke semangat semula, ketika baru mengawali jalan panggilan atau tugas pekerjaan. Bukankah sebagai imam baru, bruder atau suster baru, suami-isteri baru, pegawai baru, dst.. kita senantiasa dalam keadaan gembira, bergairah dan dinamis menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan kita masing-masing? Sebagai contoh konkret baik saya angkat hidup suami-isteri: apakah cara hidup suami-isteri saat ini masih dijiwai oleh semangat ketika masih dalam pacaran atau tunangan, atau bulan-bulan pertama sebagai pengantin/suami-isteri baru? Benarkah pada masa kini senantiasa masih saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit? Tanda bahwa anda sebagai suami-isteri yang setia saling mengasihi antara lain anda berdua semakin nampak bagaikan manusia kembar, semakin banyak kesamaaan yang ada dalam diri anda berdua (tidak sama jenis pakaian saja). Mengapa saya mengajak para suami-isteri untuk mawas diri, karena hidup berkeluarga merupakan dasar dan kekuatan hidup bersama yang lebih luas, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentu saja bagi kita semua selayaknya mawas diri: apakah saya semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia.

 

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin"

(Mzm 1:1-4).

Jakarta, 15 November 2010


Jumat, 12 November 2010

14 Nov - Mg Biasa XXXIII: Mal 4:1-2a; 2 Tes 3:7-12; Luk 21:5-19

"Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

Mg Biasa XXXIII: Mal 4:1-2a; 2 Tes 3:7-12; Luk 21:5-19


Berbagai bencana alam seperti banjir bandang, badai/angin puting beliung, gempa bumi, dst.. yang mengakibatkan kehancuran berbagai sarana-prasarana maupun korban meninggal manusia, terjadi di sana-sini. Ada orang yang berpikir apakah hal itu menjadi tanda-tanda awal kehancuran bumi seisinya, dimana lahan untuk hidup semakin berkurang, hidup semakin sulit, berbagai jenis macam penyakit yang mematikan semakin mengancam jiwa umat manusia, dst..  Gaya hidup berbagai orang yang hanya mengikuti selera pribadi dalam hal makan dan minum kiranya juga semakin mempercepat kamatiannya alias tak akan berumur panjang. Tekanan atau beban sosial dan ekonomi mendorong beberapa orang untuk bunuh diri. Apa yang terjadi kiranya sebagaimana tertulis dalam Warta Gembira hari ini, yaitu "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku" (Luk 21:10-12). Menanggapi semuanya itu Yesus berpesan: "Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi….Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu" (Luk 21:13.19), maka marilah kita renungkan pesan Yesus ini.

 

"Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu" (Luk 21:19)

 

Apa yang dimaksudkan dengan bertahan disini adalah bertahan dalam iman artinya tetap setia menghayati iman dalam situasi dan kondisi apapun. Beriman antara lain juga berarti menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan. Nilai atau keutamaan tak akan hancur dan tak akan musnah karena bencana alam atau musibah apapun, sebagaimana pernah dihayati oleh salah seorang anggota Dewan Paroki Situbondo ketika terjadi pembakaran gedung gereja dan sekolah katolik beberapa tahun lalu, yang berkata "gedung gereja, sekolah dibakar tidak apa-apa dan hatiku pun juga terbakar untuk mencinta". Gempa bumi, bencana alam dst.. memang pada umumnya membakar hati, jiwa orang yang beriman dan berbudi pekerti luhur untuk berbuat baik, mengorbankan sebagian milik atua harta kekayaannya untuk membantu para korban gempa bumi atau bencana alam.

 

Marilah kita memperkuat dan memperdalam iman kita, antara dengan senantiasa berbuat baik kepada orang lain dimanapun dan kapanpun serta tidak melupakan hidup doa setiap hari. Hari-hari ini kita memasuki akhir tahun liturgy, yang akan dimahkotai minggu depan pada 'Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam', maka baiklah kita mawas diri sejauh mana setelah mengarungi satu tahun liturgy iman kita semakin diperdalam, diperkuat dan diteguhkan, sehingga kita semakin tahan, tegar dan handal dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun masalah yang muncul dari berbagai musibah atau bencana alam maupun kemerosotan moral saudara-saudari kita. Kami harapkan masing-masing dari kita juga semakin teguh dalam menghayati panggilan hidup maupun melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan: para suami-isteri semakin saling mengasihi, para imam, bruder atau suster semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka pelayanan, para pekerja semakin terampil bekerja, para pelajar/mahasiswa semakin terampil belajar, dst…     

 

Kepada siapapun yang semakin setia pada panggilan dan tugas pengutusan akan memperoleh hidup, artinya semakin bergairah, gembira dan ceria serta dinamis dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan. Para pengusaha akan semakin sukses dalam usahanya, para pelajar semakin percaya diri akan sukses dalam belajar, para pekerja semakin menghasilkan buah-buah yang baik, dst.. Pendek kata jika kita tetap setia pada iman berarti kita semakin segar bugar, sehat wal'afiat baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual.

 

"Kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri." (2Tes 3:11-12)

 

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi kita semua. Paulus berani mengatakan hal tersebut, karena ia sendiri sebagai pewarta kabar gembira tidak menjadi beban bagi orang lain dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi mampu mencukupinya dengan bekerja sebagai tukang tenda. Paulus sungguh tertib dalam hidup maupun bekerja, maka marilah kita mawas diri apakah kita semakin tertib dalam hidup dan bekerja sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain, 'melakukan pekerjaan dengan baik dan dengan demikian makan makanannya sendiri, yang diusahakan dengan bekerja'.

 

"Sikap tertib adalah sikap dan perilaku yang teratur, taat asas, konsisten, dan mempunyai sistematika merupakan cermin seorang yang berdisiplin" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal. 25). Menertibkan atau mendisiplinkan diri sendiri kiranya lebih sulit daripada menertibkan atau mendisiplinkan orang lain, namun jika kita mampu menertibkan dan mendisiplinkan diri maka dengan mudah kita menertibkan dan mendisiplinkan orang lain, dan caranya juga disertai dengan kerendahan hati dan lemah lembut. Sebaliknya orang yang tidak dapat menertibkan dan mendisiplinkan diri ketika menertibkan dan mendisiplinkan orang lain pasti dengan kekerasan dan paksaan, sehingga menimbulkan korban-korban yang sungguh merugikan. Marilah kita berusaha hidup tertib dan disiplin, misalnya dalam hal-hal yang sederhana seperti makan, minum, istirahat, tidur, rekreasi, dst… Jika dalam hal-hal sederhana yang menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari tersebut kita dapat tertib dan disiplin, maka kita akan memperoleh kemudahan untuk tertib dan disiplin dalam hal-hal yang sulit, berat dan berbelit-belit.

 

Kami berharap kita tidak menjadi 'benalu' dalam kehidupan sehari-hari, yang mencuri makanan atau hak orang lain dengan tidak wajar/tidak benar. Yang bersikap mental benalu pada masa kini hemat saya adalah para koruptor; korupsi sekecil apapun hemat saya merugikan orang lain. Dengan ini kami mengingatkan para koruptor untuk bertobat, meninggalkan sikap mental benalu, yang merusak dan merampok hak orang lain tersebut. Memberantas korupsi secara preventif dapat dilakukan dalam dunia pendidikan, di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, antara lain diberlakukan 'dilarang menyontek' dalam ulangan maupun ujian. Para koruptor silahkan merenungkan sapaan nabi Maleakhi ini: "Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya" (Mal 4:1-2a). Hari yang dimaksudkan di sini adalah suatu saat tindakan korupsi anda ketahuan dan anda akan diadili, sehingga segala sesuatu yang telah anda peroleh dihabisi.

 

"Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran"

(Mzm 98:5-9).

 

Jakarta, 14 November 2010

        


13 Nov - 3Yoh 5-8; Luk 18:1-8

"Adakah Ia mendapati iman di bumi?"

(3Yoh 5-8; Luk 18:1-8)

 

"Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk 18:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan beberapa orang kudus, antara lain St.Stanislaus Kostka, biarawan/frater Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan kapanpun. "Dalam semangat iman kristiani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara', demikian bunyi azas lembaga-lembaga kemasyarakatan katolik. Dengan kata lain beriman berarti juga hidup 'membumi', berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi dijiwai oleh iman, mencari dan mengusahakan kesucian dengan 'membumi'. Memang dengan 'membumi' iman menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, tetapi sekaligus juga dimurnikan, dikuatkan dan diperdalam, maka hendaknya sebagai orang beriman juga tidak melupakan hidup doa maupun pembacaan dan permenungan sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Kita diingatkan 'harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu', tidak berarti harus dengan khusuk duduk manis di tempat suci atau di kamar berdoa rosario atau doa-dao lainnya, tetapi sepanjang hari senantiasa dalam hadirat Tuhan, 'berrekreasi dengan Tuhan' alias hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain sepanjang hari senantiasa gembira dan ceria, dinamis, penuh harapan, karena hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kami berharap kepada kita semua untuk senantiasa mengusahakan kesucian hidup dalam bekerja atau kesibukan pelayanan setiap hari, semakin sibuk bekerja dan melayani berarti semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya.


·   "Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing" (2Yoh. 5), demikian sapaan atau sentuhan kasih Yohanes dalam suratnya. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu/SARA, membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Persaudaraan atau persahabatan sejati sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan pada saat ini mengingat dan memperhatikan masih maraknya permusuhan, tawuran, bentrokan antar kelompok atau suku yang masih terus terjadi. Yang menimbulkan permusuhan, tawuran atau bentrokan antara lain berbagai perbedaan, seperti beda suku, pendapat, pikiran, selera, dst.. Ingat dan hayati bahwa kita semua berbeda satu sama lain, maka hendaknya apa yang berbeda di antara kita dijadikan atau dihayati sebagai daya pesona, daya tarik dan daya pikat untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat. Tak henti-hentinya saya mengingatkan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, terpesona dan terpikat untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat, hidup bersama sebagai suami-isteri dan saling mengasihi sampai mati baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit. Itulah misteri ilahi yang selayaknya kita imani. Memang untuk itu dibutuhkan keutamaan kerendahan hati agar kita dapat saling mengasihi dan bersahabat dalam aneka perbedaan yang ada. Marilah dengan rendah hati kita hayati secara mendalam apa yang sama di antara kita, antara lain: sama-sama manusia ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, dst… Jika kita dapat menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam, maka apa yang berbeda akan fungsional untuk memperdalam dan memperluas persahabatan.

 

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya." (Mzm 112:1-6)

Jakarta, 13 November 2010