Rabu, 15 September 2010

16 sept - 1Kor 15:1-11; Luk 7:36-50

"Ia membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya"

(1Kor 15:1-11; Luk 7:36-50)

 

"Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (Luk 7:36-39), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Kornelius, Paus dan St.Siprianus, Uskup, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·    Beriman berarti senantiasa berdialog dan berrelasi dengan Tuhan, Yang Ilahi, dan karena Tuhan adalah maha segalanya, maka berdialog atau berrelasi denganNya mau tak mau kita akan seperti perempuan berdosa yang menangis sambil menciumi kaki Yesus, artinya bersembah-sujud seutuhnya kepada Tuhan. Beriman kepada Tuhan mau tak mau kita akan dikuasai atau dirajai olehNya, dan dengan demikian akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya, seraya menyadari dan menghayati diri sebagai orang berdosa yang dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Hari ini kita mengenangkan seorang paus dan uskup bersama-sama, yang senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina di hadirat Tuhan/Yang Ilahi. Dua pribadi ini selain masing-masing berdialog erat dan mesra dengan Tuhan juga berdialog satu sama lain, sehingga mereka bekerja bersama-sama, saling membantu dan memperhatikan. Kita semua mengakui diri sebagai orang beriman, maka marilah dengan rendah hati kita menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Karena kita sama-sama beriman selayaknya kita sering berdialog, bercakap-cakap atau ber-curhat perihal pengalaman iman kita masing-masing, guna saling memperkaya dan meneguhkan, sehingga masing-masing dari kita setelah berdialog atau bercakap-cakap dapat mendengarkan suara Tuhan ini: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 7:50).

·   "Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku" (1Kor 15:10), demikian kesaksian iman Paulus. Kita semua telah menerima kasih karunia Allah secara melimpah ruah, yang kita terima melalui siapa saja yang telah mengasihi dan berbuat baik kepada kita, sehingga kita dapat hidup dan berada seperti saat ini. Semua yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah kasih karunia Allah,  misalnya kepandaian, kecerdasan, ketampanan/kecantikan, harta benda/uang, keterampilan, dst.. Kita semua dipanggil untuk tidak mensia-siakan kasih karunia Allah tersebut, melainkan memfungsikan seoptimal mungkin demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari atau sesama kita. Maka marilah bekerja keras untuk memfungsikan aneka macam kasih karunia Allah dalam hidup dan tugas pengutusan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Kita persembahkan semua yang kita miliki dan kuasai pada saat ini kepada Allah melalaui saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu atau SARA. Jauhkan aneka macam bentuk kemalasan, yang berarti meremehkan kasih karunia atau anugerah Allah maupun saudara-saudari kita yang telah menjadi penyalur kasih karunia atau anugerah tersebut. Allah bekerja terus-menerus, siang malam tiada henti, tak kenal waktu dan tempat, maka selayaknya sebagai orang yang beriman kita berbuat demikian juga, artinya dalam apapun yang sedang lakukan senantiasa kita lakukan bersama dan bersatu dengan Allah, sehingga apapun yang kita lakukan mempesona, memikat dan menarik banyak orang untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Senantiasa bersama dan bersatu dengan Allah berarti senantiasa berbuat baik dalam kondisi dan situasi apapun, dan dengan demikian senantiasa dalam keadaan bergairah, dinamis, ceria dan gembira.

 

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (Mzm 118:1-2)

    

Jakarta, 16 September 2010


Selasa, 14 September 2010

15 Sept - 1Kor 12:31-13:15; Luk 2:33-35

"Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri"

(1Kor 12:31-13:15; Luk 2:33-35)

 

"Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."(Luk 2:33-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta "SP Maria Berdukacita" hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   SP Maria adalah teladan umat beriman, yang mengandung, melahirkan dan mendampingi Penyelamat Dunia, yang datang untuk mempersembahkan Diri bagi keselamatan seluruh dunia dengan menderita dan  wafat di kayu salib. Kemarin kita kenangkan 'Salib Suci', dan hari ini kita kenangkan SP Maria Berdukacita, kenangan akan partisipasi SP Maria dalam penderitaan dan wafat Penyelamat Dunia, PuteraNya. SP Maria Berdukacita ini dikenangkan antara lain dengan patung karya Michael Angelo "SP Maria yang sedang memangku Yesus yang telah wafat di kayu salib". Karena SP Maria adalah teladan umat beriman, maka kita semua umat beriman dipanggil untuk berpartisipasi dalam penderitaan dan wafat Yesus di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. Secara konkret kita dipanggil untuk siap sedia menderita dan berkorban demi keselamatan jiwa diri kita sendiri maupun orang lain atau sesama kita. Kita semua mendambakan hidup mulia, damai sejahtera dan selamat selama di dunia ini dan kelak setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. "Jer basuki mowo beyo" = Untuk hidup mulia dan damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa. Marilah jiwa perjuangan dan pengorbanan ini sedini mungkin kita dididikkan atau biasakan pada anak-anak dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua atau bapak-ibu. Dengan kata lain hendaknya dijauhkan aneka macam bentuk pemanjaan pada anak-anak. Sedini mungkin, sesuai dengan kemampuan dan perkembangannya, libatkan dan fungsikan anak-anak dalam pemenuhan hidup bersama yang damai dan sejahtera., antara lain dengan memfungsikan anak-anak untuk mengerjakan hal-hal sederhana, dan makin lama makin sulit, misalnya menyapu, mematikan lampu/kran air, mengatur tempat tidur, dst…Jauhkan sikap mental atau budaya 'instant', seperti cepat-cepat pandai, kaya, dst.., dan ikutilah 'proses' yang baik dalam mengerjakan segala sesuatu.

·   "Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (!Kor 12:31), demikian nasihat Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Karunia yang paling utama tidak lain  adalah.kasih, dan  "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1Kor 13:4-7). Marilah ajaran perihal kasih dari Paulus ini kita hayati dan sebarluaskan di dalam hidup kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Perkenankan saya mengangkat perihal 'tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain', mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang mudah marah karena alasan-alasan atau hal-hal kecil dan sederhana saja. Marah berarti melecehkan dan merendahkan yang lain, dan dengan demikian melanggar hak-hak asasi manusia. Yang sering menjadi sebab, alasan atau dorongan untuk marah antara lain adalah 'perbedaan', entah beda selera, pendapat, pikiran, SARA, dst.. , dimana kita tidak dapat menghormati dan menghargai perbedaan-perbedaan. Ingatlah dan hayatilah bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis, semuanya berbeda satu sama lain, laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, terpikat dan ingin mendekati, bersahabat dan mengasihi satu sama lain. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya tarik, daya pikat, daya pesona dan kekuatan untuk saling bersahabat dan mengasihi. Maka kami harapkan kepada anda semua: marilah kita hayati dan sikapi aneka perbedaan yang ada di antara kita sebagai daya tarik, daya pikat, daya pesona untuk saling mendekat dan bersahabat, itulah salah satu perwujudan kasih, karunia yang paling utama.

 

"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN" (Mzm 33:2-5).

Jakarta, 15 September 2010 

        


Minggu, 12 September 2010

14 Sept - Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17

"Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal".

(Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17)

 

"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yoh 3:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Entah sudah berapa kali kita membuat tanda salib atau memandang salib kiranya tidak ada yang sempat menghitung atau tak mungkin dihitung. Rekan-rekan perempuan dengan bangga mengenakan salib di dadanya, salib yang tergantung di untaian kalungnya. Ketika membuat tanda salib kita juga menepuk dahi, dada dan bahu, dan tanda salib pada umumnya dibuat untuk mengawali apa yang akan kita kerjakan. Maka membuat tanda salib untuk mengawali apa yang akan kita kerjakan berarti kita akan hidup dan bekerja atau bertindak meneladan Yang Tersalib, cara berpikir seperti Yang Tersalib, berjiwa dan berhati Yang Tersalib dan bertenaga Yang Tersalib. Mengawali segala sesuatu yang akan kita kerjakan dengan membuat tanda salib berarti apapun yang akan kita kerjakan atau lakukan senantiasa semakin menyucikan jiwa, hati, akal budi dan tubuh kita alias semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia dalam hidup sehari-hari. Yang Tersalib hidup dan berkarya dalam diri kita, maka dengan demikian kita akan saling bersembah sujud dan menghormati, sebagaimana kita senantiasa bersembah sujud dan menghormati Yang Tersalib. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang mengenakan salib setiap hari, entah sebagai asesori atau tanda tertentu, kami harapkan hidup dan bertindak meneladan Yang Tersalib, antara lain rela berkorban dengan jiwa besar bagi keselamatan dan kebahagiaan orang lain tanpa pandang bulu atau  SARA. Percaya kepada Yang Tersalib berarti berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi, hidup mendunia, mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia, mengurus atau mengelola dunia seisinya demi keselamatan jiwa manusia.


·   "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8). Hidup bersama kita yang paling riel atau konkret antara lain hidup di dalam keluarga/komunitas maupun di tempat tugas atau kerja, dimana setiap hari kita memboroskan waktu dan tenaga kita. Dalam kebersamaan hidup yang paling dasar atau komunitas basis ini kita diharapkan 'menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus', yaitu rendah hati dan rela berkorban demi keselamatan umat manusia. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati dan kerelaan berkorban demi orang lain ini hendaknya sedini mungkin ditanamkan, dididikkan dan dibiasakan dalam diri anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua. Pengalaman hidup dengan rendah hati dan rela berkorban di dalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan luar biasa untuk hiudup dengan rendah hati dan rela berkorban dalam komunitas atau kelompok hidup dan bekerja bersama yang lebih luas. Saling bekerjasama dengan rendah hati dan rela berkorban, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban kerjasama, kerjasama dari orangtua kita masing-masing; kita diadakan dalam kerjasama, dididik dan dikembangkan dalam kerjasama, maka tidak kerjasama berarti mengingkari jati diri kita.

 

"Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala….., dituntun-Nya mereka dengan awan pada waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang api; dibelah-Nya gunung batu di padang gurun, diberi-Nya mereka minum banyak air seperti dari samudera raya"

 (Mzm 78:1-2.14-15)

Jakarta, 14 September 2010  


13 Sept - 1Kor 11:17-26; Luk 7:1-10


"Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai"

(1Kor 11:17-26; Luk 7:1-10)


"Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali."(Luk 7:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang perwira tentara atau militer pada umumnya mengandalkan diri pada kekuatan phisik dan kurang percaya kepada Tuhan. Dalam kisah yang diwartakan hari ini ada seorang perwira dengan rendah hati minta tolong kepada orang tua-tua Yahudi untuk menghadap Yesus guna mohon penyembuhan hambanya yang sedang menderita sakit. Maka Yesus berkata :"Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel". Sehat atau sakit serta penyembuhan orang sakit erat kaitannya dengan beriman atau tidak beriman. Jika kita sungguh beriman kiranya kita jarang atau tidak pernah menderita sakit apapun, sebaliknya jika sedang menderita sakit hendaknya mawas diri apakah kita sungguh beriman, dan dengan rendah hati mohon penyembuhan dari Tuhan melalui orang-orang di sekitar kita. Beriman berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan aneka macam tata tertib yang dibuat dan diundangkan demi hidup sehat, bahagia dan damai sejahtera, antara lain tata tertib hidup sehat dan berdoa. Makan-minum, istirahat, bekerja dan bertindaklah dalam iman jika anda mendambakan hidup sejahtera, damai bahagia lahir dan batin, jasmani dan rohani. Jauhi cara hidup dan cara bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi alias seenaknya sendiri.


·   "Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang."(1Kor 11:26), demikian ajaran atau peringatan Paulus. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini erat kaitannya dengan saat ketika kita menerima komuni kudus di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan menerima komuni kudus berarti kita mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus dalam cara hidup dan cara bertindak kita, artinya kita mati dalam hal dosa alias tidak berbuat dosa lagi dan hanya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita hidup dan bertindak dengan meneladan Yesus, yaitu mempersembahkan hidup kita seutuhnya demi kebahagiaan dan keselamatan diri kita sendiri maupun orang lain yang hidup dan bekerja bersama kita setiap hari atau orang yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita. Dengan kata lain kita menjadi saksi karya penyelamatan Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari sampai mati atau dipanggil Tuhan. Kita juga diingatkan setiap kali akan menerima komuni kudus hendaknya kita dalam keadaan yang layak atau baik alias tidak berdosa, maka sekiranya berdosa dan tidak layak untuk menerima komuni kudus, hendaknya terlebih dahulu mohon kasih pengampunanNya antara lain dengan mengaku dosa. Ingat bahwa menerima komuni kudus berarti kita didatangi oleh Tuhan yang mahasegalanya. Bukankah ketika kita akan menyambut tamu penting dan terhormat pada umumnya untuk mengusahakan lingkungan hidup kita serta diri kita sendiri bersih, tanpa noda? Tuhan melebihi segalanya yang ada di dunia ini, maka selayaknya sebelum menyambut kedatanganNya, antara menerima komuni kudus, kita jaga diri kita senantiasa dalam keadaan bersih dan tanpa noda baik secara spiritual maupun phisik, rohani maupun jasmani. Karena kita semua menerima komuni kudus yang sama, maka selayaknya kita bersaudara dan bersahabat dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun.

 

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku" (Mzm 40:7-9).

Jakarta, 13 September 2010   . .        


Sabtu, 11 September 2010

12 Sept - Mg Biasa XXIV: Kel 32:7-11.13-14; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32(Luk 15:1-10

"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Mg Biasa XXIV: Kel 32:7-11.13-14; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32(Luk 15:1-10


 

Masa Puasa bagi saudara-saudari kita umat Islam baru saja berlalu dan kiranya pada hari-hari ini kebanyakan dari kita masih bersenang-senang merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satu kebijakan yang mewarnai selama masa Puasa antara lain semua tempat hiburan seperti 'café, karaoke, panti pijat, tempat pelacuran, dst.' harus ditutup guna menghormati mereka yang sedang berpuasa. Menyikapi kebijakan tersebut ada yang berkomentar "Apakah kebijakan tersebut tidak merupakan sandiwara, karena setelah Puasa alias setelah hari raya Idul Fitri mereka boleh buka atau bekerja lagi". Mereka yang berkarya di tempat-tempat hiburan maupun yang mendatangi dinilai sebagai orang-orang berdosa, dan mungkin demikian adanya. Paradigma atau cara berpikir manusia memang berbeda dengan paradgima atau cara berpikir Tuhan: manusia lebih cenderung menyingkirkan dan mengurung orang-orang berdosa atau yang dinilai sebagai sampah masyarakat, sedangkan Tuhan menghendaki agar mereka dirangkul dan diampuni dosa-dosanya agar bertobat. Hemat saya para pendosa atau mereka yang dinilai sebagai sampah masyarakat tersebut dalam perjalanan hidup kurang menerima dan menghayati kasih sayang maupun kasih pengampunan, maka mereka hendaknya disikapi, didekati dan diperlakukan dengan kasih saya dan kasih pengampunan yang dijiwai oleh kerendahan hati yang mendalam, sebagaimana dihayati oleh Yesus.

 

"Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."(Luk 15:10)

Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, maka dimana ada yang tidak selamat Dia datangi untuk diselamatkan, antara lain orang-orang berdosa. Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk melakukan apa yang Ia lakukan, meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, antara lain dengan rendah hati 'menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'. Siapakah orang-orang  berdosa di lingkungan hidup kita? Orang-orang berdosa yang ada di lingkungan hidup kita tidak lain adalah mereka yang kita pandang dan nilai 'kurang dari pada kita' alias kita nilai bodoh, nakal, kurang ajar, bermasalah, egois, kurang/tidak sosial, dst.., dan mereka ini mungkin ada di dalam keluarga, komunitas atau tempat kerja/tugas kita  masing-masing. Dengan kata lain marilah kita menedalan cara hidup dan cara bertindak Yesus di komunitas basis kita masing-masing, dimana kita tinggal dan hidup di dalamnya.

 

'Mempertobatkan orang-orang berdosa' memang tidak mudah, butuh pengorbanan dan kerja keras serta kerendahan hati yang mendalam. Ada kemungkinan kita 'dirasani' tidak  baik atau dilecehkan, sebagaimana orang-orang Farisi mengomentari Yesus yang 'menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'. Ada kemungkinan kita juga ditolak oleh orang-orang yang hendak kita ajak untuk bertobat. Namun sebagaimana disabdakan oleh Yesus 'akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang dosa yang bertobat', marilah kita tetap tegar dan sabar dalam membantu pertobatan orang lain, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta masalah.  Jika kita mampu membantu pertobatan seseorang, betapa bahagianya kita sebagai umat beriman dan kebahagiaan kita tak akan mudah luntur atau musnah. Dalam membantu pertobatan orang lain hendaknya tidak melupakan doa, berdoa mohon rahmat pertobatan atau kasih pengampunan bagi saudara atau saudari kita yang kita dambakan untuk bertobat, karena yang benar adalah bahwa Tuhan sendiri yang mampu mempertobatkan orang-orang berdosa, sedangkan kita hanya menjadi sarana bantuan saja. Doa-berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beriman atau beragama, maka jangan sampai kita melupakan hidup doa kita masing-masing.

 

"Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1Tim 1:15-16)

 

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa, yang dikasihi dan dipanggil Tuhan. Kebenaran itulah yang juga menghidupi Paulus, rasul agung. "Di antara mereka akulah yang paling berdosa', demikian kata Paulus, yang sebaiknya kita renungkan dan refleksikan. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa juga berarti menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah, dengan dengan demikian hidup dengan penuh syukur dan terima kasih. Syukur dan terima kasih ini kita hayati dan teruskan kepada saudara-saudari kita, antara lain dengan senantiasa mengampuni mereka yang telah menyakiti kita atau bersalah terhadap kita.

 

Sebagai yang telah dikasihi dan diampuni kita juga dipanggil untuk menjadi saksi kesabaran alias hidup dengan penuh kesabaran. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sabar kiranya merupakan salah satu keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan kita sehari-hari masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang/tidak sabar, sebagaimana dapat kita lihat dan cermati di antara para pengendara di jalanan. Ketidak-sabaran juga menjangkiti banyak generasi muda masa kini, antara lain dalam hal menikmati hubungan seksual, dimana cukup banyak muda-mudi yang sedang berpacaran berhubungan seks, sehingga sang gadis hamil. Dampak ketidak-sabaran adalah kehancuran atau musibah yang membekas dalam hati.

 

"Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya." Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya" (Kel 32:13-14), demikian berita perihal pengalaman bangsa terpilih yang telah berdosa, tidak sabar di dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Ketidak-sabaran mereka mendorong mereka hidup dan bertindak seenaknya, sehingga Tuhan merancang untuk mendatangkan malapetaka bagi mereka, namun karena doa salah satu dari mereka yang memimpin dalam perjajalanan, akhirnya Tuhan membatalkan untuk mendatangkan malapetaka.  Maka baiklah kita meneladan pengalaman bangsa terpilih yang sedang dalam perjalanan tersebut, bukan meneladan ketidak-sabaran dan hidup seenaknya, melainkan meneladan doanya, ingat akan Tuhan di dalam perjalanan. Dengan kata lain marilah kita awali perjalanan hidup, tugas, pekerjaan dan langkah-langkah atau kepergian kita dengan doa, dan selama perjalanan tidak melupakan untuk berdoa kepada Tuhan mohon perlindungan dan pendampinganNya agar selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan.

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"

 (Mzm 51:3-4.12-13)

             

Jakarta, 12 September 2010

 

     


Jumat, 10 September 2010

11 Sept - 1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49

"Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya".

(1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49)

 

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.""Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Luk 6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Orang-orang Barat/Eropah  adalah 'pemakan' daging, maka cerdas-cerdas, sedangkan orang-orang Indoneisa adalah 'pemakan' rumput, maka 'bodo koyo kebo'/bodoh seperti kerbau", demikian rumor atau sindiran yang disampaikan seorang penceramah dalam lokakarya pendidikan. Memang di suhu yang panas ini makan sayur-sayuran lebih nikmat, sedangkan di suhu yang dingin mengkonsumsi daging sungguh penting. Maksud rumor atau sindiran tersebut antara lain adalah soal opsi dalam program pemerintahan, dimana Negara-negara Barat/Eropah pada umumnya opsi program untuk pendidikan cukup besar, sedangkan di Indonesia pendidikan kurang memperoleh perhatian, hal ini nampak dari 'buah atau hasil' pendidikan atau sekolah-sekolah. "Setiap pohon dikenal pada buahnya", demikian sabda Yesus. Para alumni atau konsumen adalah buah-buah pelayanan, maka kwalitas pelayan dapat diketahui pada kwalitas alumni atau pengalaman konsumen. "Pohon' yang perlu memperoleh perhatian yang baik dan memadai pada hemat saya adalah 'karya pelayanan pendidikan' , entah formal maupun informal, di dalam kelurga maupun di sekolah-sekolah atau tempat-tempat kursus. Jika kita mencita-citakan atau mendambakan anak-anak atau generasi muda ketika mereka menjadi dewasa sungguh baik dan cerdas spiritual, maka tidak ada jalan lain selain memperhatikan pendidikan. Kepada para penyelenggara maupun pengelola dan pelaksana pendidikan di sekolah-sekolah kami harapkan sungguh mendidik anak-anak atau peserta dididik yang diserahkan oleh orangtua mereka untuk dididik dan dibina, sehingga selesai belajar mereka menjadi pribadi dewasa yang handal, cerdas beriman dan tidak dapat digoyahkan oleh aneka macam godaan setan atau untuk berbuat jahat.

·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan" (1Kor 10:14-15), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Berhala-berhala pada masa kini antara lain menggejala dalam bentuk 'harta benda/uang, jabatan/kedudukan/pangkat, kehormatan duniawi', dan rasanya yang paling banyak adalah dalam bentuk 'harta benda/uang', sebagaimana sering dikatakan dalam sindiran "UUD" (=Ujung-Ujungnya Duit/uang). Uang memang dapat menjadi jalan ke neraka atau ke sorga; uang akan menjadi jalan ke neraka ketika kita dikuasai oleh uang, dimana kita sudah menjadi orang yang 'mata duiten, kaki duiten, mulut duiten, dst..', artinya mau bertindak ketika dibayar atau ada uang. "Menjauhi penyembahan berhala uang" berarti memfungsikan uang sebagai jalan ke sorga, demi keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan jiwa manusia. Maka marilah kita fungsikan uang sesuai dengan 'maksud pemberi' (intentio dantis), misalnya uang sekolah difungsikan untuk memajukan, mengembangkan sekolah; uang jalan untuk membeayai perjalanan dst.. , pajak adalah berasal dari rakyat maka uang pajak harus difungsikan demi kesejahteraan rakyat.  Marilah kita fungsikan atau gunakan harta benda atau uang dengan jujur dan disiplin. Kami percaya jika dalam hal yang kelihatan itu dapat jujur dan disiplin, maka akan terjadi kemudahan untuk jujur dan disiplin dalam bidang-bidang yang lain.

 

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya"

 (Mzm 116:12-13.17-18)

 

Jakarta, 11 September 2010