Minggu, 15 Agustus 2010

17 Agustus - HR Kemerdekaan RI : Sir 10: 1-8; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

HR Kemerdekaan RI : Sir 10: 1-8; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21


Peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi memang menimbulkan aneka macam reaksi maupun peristiwa, yang bersifat positif maupun negatif. Yang bersifat positif antara lain 'gerakan demokrasi' yang ditandai adanya kebebasan berpendapat dan berorganisasi, sehingga muncul partai-partai politik baru. Orde Reformasi juga ditandai dengan 'gerakan desentralisasi pemerintahan', yang ditandai dengan otonomi daerah, pemberian beberapa wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengurus diri sendiri. Dalam suasana yang demikian itu para pejuang kebenaran dan kejujuran tanpa takut dan gentar menyuarakan kebenaran-kebenaran serta memperjuangkan kebenaran-kebenaran melalui aneka kesempatan dan kemungkinan. Sedangkan yang bersifat negatif antara lain terjadi pemerataan korupsi, dimana para pejabat daerah dengan bebas melakukan korupsi. Karena korupsi yang dilakukan oleh para pejabat daerah inilah kiranya muncul reaksi atau komentar di sementara lingkungan rakyat kecil "Masa Orde Baru lebih enak dari pada masa Reformasi ini".  Reformasi berarti pembaharuan, dan memang dalam proses pembaharuan pada umumnya terjadi aneka macam gesekan dan pertentangan, apalagi ada tokoh-tokoh yang bersikap mental 'status quo', yang menentang pembaharuan. Aneka macam ketegangan dan kekacauan terjadi karena kurang setia mentaati aneka kewajiban, maka baiklah kami mengajak anda sekalian dalam rangka mengenangkan Kemerdekaan Negara kita untuk mawas diri dengan cermin dari sabda-sabda hari ini.

 

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21)

Kutipan sabda Yesus di atas ini kiranya yang menjiwai Mgr.A.Sugijapranata SJ (alm) menciptakan motto bagi umat Katolik "Jadilah 100% warganegara dan 100% Katolik".  Apa yang wajib kita berikan kepada 'Kaisar'/pemerintah dan apa yang wajib kita persembahkan kepada Allah? Salah satu bentuk kewajiban utama warganegara adalah membayar pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam bidang kehidupan dan pelayanan atau usaha masing-masing. Pendapatan dari pajak pada umumnya merupakan bagian terbesar pendapatan Negara guna membeayai perjalanan pemerintahan. Ada aneka macam pajak, misalnya pajak pribadi, pajak kendaraan, pajak perusahaan/usaha, pajak turis atau wisatawan, dst.. Untuk menggalakkan dan mendisiplinkan pembayaran pajak hemat saya para pejabat atau petugas pajak di tingkat atau bagian pelayanan apapun harus jujur, disiplin dan tidak korupsi, sehingga rakyat atau wajib pajak suka melaksanakan kewajibannya untuk membayar pajak. Tetapi ketika pajak dikorupsi oleh pejabat atau pegawai pajak, sebagaimana masih terjadi di Indonesia pada saat ini, para wajib pajak ragu-ragu untuk membayar pajak dengan benar dan jujur, bahkan ada kecenderungan untuk korupsi juga. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para pejabat atau petugas yang terlibat dalam aneka perpajakan  untuk jujur dan disiplin dalam melaksanakan tugasnya. "Pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur." (Sir 10:1)

 

Hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka kewajiban kepada Allah antara lain bersyukur dan berterima kasih kepadaNya serta mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut kepada sesama manusia dimanapun dan kapanpun, selain dalam doa atau beribadat. Kepada rekan-rekan umat beragama kami berharap untuk setia dalam berdoa maupun beribadat sesuai dengan ketentuan atau peraturan agama masing-masing. Kami berharap juga, entah kepada pemerintah maupun rekan umat beragama untuk memberi kebebasan kepada para penganut agama apapun untuk berdoa dan beribadat sesuai dengan keyakinan iman masing-masing. Hendaknya perizinan untuk mendirikan rumah ibadat tidak dipersulit. Aneh dan nyata: izin untuk mendirikan hotel atau losmen begitu mudah, tetapi izin untuk mendirikan rumah ibadat begitu sulit dan berbelit-belit, padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa sementara hotel atau losmen menjadi tempat maksiat atau pelacuran terselubung. Marilah kita saling bersyukur dan berterima kasih dalam keadaan atau kondisi apapun, sebagai wujud bahwa kita sungguh beriman kepada Allah, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah.

 

"Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!" (1Ptr 2:16-17)

         

 "Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu"  inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Kita semua adalah manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah, maka kita dipanggil untuk saling menyikapi dan memperlakukan diri sebagai 'bait Allah'. Allah hidup dan berkarya di dalam diri kita masing-masing, maka marilah kita saling menghormati dan mengasihi.   "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7), demikian ajaran kasih Paulus, marilah kita hayati ajaran kasih ini di dalam hidup kita sehar-hari, sebagai perwujudan bahwa kita adalah orang-orang yang bebas merdeka.

 

Memperhatikan dan mencermati masih maraknya aneka bentuk kebohongan yang terjadi masa kini, maka hemat saya berbuat benar dan menjadi pewarta kebenaran sebagai perwujudan kasih sungguh mendesak dan up to date.  Berbuat benar berarti jujur dan disiplin; "berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai degan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan", sedangkan "jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10 dan 17).

Sebagai orang yang bebas merdeka kita semua dipanggil untuk menghayati sabda ini:"Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu" (Sir 10:6)  Nafsu yang mempengaruhi hidup kita untuk berbuat jahat antara lain nafsu seks, nafsu uang, kedudukan atau jabatan, dst, yang ketika kita turuti atau hayati begitu saja pasti akan menimbulkan kebencian. Kepada mereka yang melakukan kesalahan demikian itu kita diharapkan tidak membenci, melainkan mengasihi, maka baiklah kita doakan mereka agar bertobat atau jika mungkin kita dekati dengan rendah hati dan kasih untuk dibimbing menuju perbuatan-perbuatan yang benar, menyelamatkan dan membahagiakan sesamanya.

 

"Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku.Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku."

 (Mzm 101:2-3.6-7)

Jakarta, 17 Agustus 2010 .  


16 Agustus - Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

"Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

 

"Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya" (Mat 19:16-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua mendambakan 'untuk memperoleh hidup yang kekal'  setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia nanti. Syarat untuk itu memang sungguh berat, yaitu "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku". Rasanya tak akan mungkin bagi kita semua untuk menjual segala milik kita dan kemudian memberikan uang penjualan tersebut kepada orang miskin. Maka baiklah sabda Yesus tersebut kita hayati tidak secara harafiah, tetapi inti maksudnya, yaitu hendaknya kita memfungsikan segala milik kita sebagai sarana sosial, karena semua harta benda atau milik hemat saya pada dirinya bersifat sosial. Semakin kaya akan harta benda atau uang hendaknya semakin sosial, maka kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang hendaknya harta benda atau uang tersebut 'dijalankan' demi orang-orang miskin dan berkekurangan. Harta benda atau uang diam saja tidak ada artinya dan akan berarti jika 'berjalan-jalan', maka jangan menyimpan harta benda atau uang dalam almari besi saja. Mengingat dan memperhatikan masih begitu banyak tenaga kerja yang menganggur, maka dengan ini kami berharap kepada para pengusaha untuk membuka dan menyelenggarakan usaha yang menyerap lebih banyak tenaga kerja. Memang usaha seperti pertambangan dan perkebunan nampak lebih menguntungkan secara financial, akan memperoleh keuntungan besar, tetapi usaha tersebut hemat saya kurang sosial, bahkan merusak lingkungan hidup, yang pada gilirannya memiskinkan rakyat. Usahakan lebih 'padat karya' daripada 'padat modal' mengingat dan memperhatikan begitu banyak tenaga kerja yang menganggur.

·   "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata" (Yeh 24:16), demikian firman Tuhan kepada kita semua melalui nabi Yeheskiel. Apa atau siapa yang sangat saya cintai? Relakah saya bahwa yang sangat saya cintai tersebut diambil oleh Tuhan. Mungkin yang dimaksud diambil oleh Tuhan tidak hanya berarti meninggal dunia saja, tetapi dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita yang terkasih diminta untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan kiranya ada kemungkinan, maka marilah kita mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain hendaknya tidak hidup demi dirinya sendiri saja. "Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan." (Rm 14:7-8), demikian kesaksian atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Hendaknya kita hidup dan bertindak demi semakin banyak orang, melakukan aneka perkerjaan yang berdampak pada keselamatan lebih banyak orang. Secara khusus kami berharap kepada anak-anak dan generasi muda untuk berani membuka diri terhadap kemungkinan dipanggil untuk menjadi imam, bruder atau  suster, sedangkan kepada para orangtua hendaknya dengan rela hati dan gembira ketika salah seorang anaknya minta izin untuk menjadi imam, bruder atau suster. Kepada semuanya kami berharap untuk mengusahakan, meningkatkan dan memperdalam kepedulian kepada sesama, lebih-lebih atau terutama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

"Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan" (Ul 32:18-20).

Jakarta, 16 Agustus 2010

      


Jumat, 13 Agustus 2010

15 Agustus - HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu."

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56


"Allah tidak berkenan mewahyukan misteri keselamatan umat manusia secara resmi, sebelum mencurahkan Roh yang dijanjikan oleh Kristus. Maka kita saksikan para Rasul sebelum hari Pestekosta 'bertekun sehati sejiwa dalam doa bersama beberapa wanita, dan Maria Bunda Yesus serta saudara-saudaraNya'(Kis 1:14). Kita lihat Maria juga dengan doa-doanya memohon kurnia Roh, yang pada saat Warta Gembira dulu sudah menaunginya. Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, Ia telah ditinggikan Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut" (Vatikan II: LG no 59). Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka kita umat beriman kiranya juga mendambakan bahwa 'sesudah menyelesaikan perjalanan hidup di dunia'  alias meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, akan hidup mulia selama-lamanya bersama Tuhan di sorga serta orang-orang kudus yang telah mendahului perjalanan kita untuk menghadap Tuhan di sorga. Dambaan tersebut akan menjadi kenyataan jika kita sungguh meneladan Bunda Maria dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, maka marilah kita renungkan dan hayati sabda-sabda yang terkait dengan Bunda Maria, sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira atau Injil hari ini.

 

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus" (Luk 1:46-49).

    

Jiwa adalah sumber hidup, yang menghidupkan dan menggairahkan cara hidup dan cara bertindak kita. "Jiwaku memuliakan Tuhan"  berarti cara hidup dan cara bertindakku senantiasa menempatkan Tuhan di atas segala-galanya atau Tuhan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Hidup dan bertindak dijiwai oleh Tuhan berarti membahagiakan, mensejahterakan dan menyelamatkan sesama manusia maupun lingkungan hidupnya atau hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga menghasilkan keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23).

 

Hidup dijiwai oleh Tuhan berarti juga dengan rendah hati mengimani bahwa "Yang Mahakuasa telah melakuakn perbuatan-perbuatan besar kepadaku", dan dengan demikian mengakui dan menghayati bahwa apa-apa yang 'besar', baik, mulia, indah, mempesona dll merupakan karya Tuhan dalam diri kita yang lemah dan rapuh. Kita menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita nikmati, miliki, kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, misalnya harta benda/uang, ketampanan, kecantikan, kecerdasan, keterampilan, anak-anak, sahabat, teman dll.  Kita memfungsikan apa yang kita miliki atau kuasai pada saat ini untuk memuliakan, memuji, menghormati dan melayani Tuhan melalui saudara-saudari kita. Maka kita senantiasa saling memuliakan, memuji, menghormati dan melayani di dalam hidup sehari-hari.  Jika kita sungguh hidup dan bertindak yang demikian ini, percayalah atau imanilah bahwa ketika kita dipanggil Tuhan atau setelah meninggal dunia akan dimuliakan bersama Tuhan di surga untuk selama-lamanya. Kepada rekan-rekan perempuan yang memiliki pelindung St.Maria atau mengenakan nama 'Maria' dalam diri anda, kami harapkan dapat menjadi teladan dalam hidup beriman bagi saudara-saudarinya. Hendaknya saling berlomba dalam beriman, sehingga anda sebagai perempuan yang mengenakan nama 'Maria' dapat dikenakan sabda yang dikenakan pada Bunda Maria, yaitu "Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu": anak-anak yang pernah anda kandung dan dilahirkan terberkati serta menjadi berkat bagi sesamanya.

"Yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1Kor 15:20-22)

    

"Dalam persekutuan dengan Adam"  berarti berdosa, sedangkan "dalam persekutuan dengan Kristus"  berarti hidup baik, suci dan berbudi pekerti luhur selama di dunia ini. Bersekutu dengan Kristus berarti menjadi sahabat-sahabatNya, dan karena Ia adalah Allah, lebih dalam segalanya daripada kita, maka mau tidak mau kita pasti dikuasai atau dirajai alias harus melaksanakan perintah-perintahNya dan menghayati sabda-sabdaNya. Jika kita sungguh menjadi sahabat-sahabatNya selama hidup di dunia ini, maka ketika dipanggil Tuhan atau setelah meninggal dunia kita akan hidup mulia di sorga bersamaNya untuk selama-lamanya. Menjadi sahabatNya berarti juga meneladan Bunda Maria "yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk 8:21)

 

Menjadi 'pendengar dan pelaksana' yang baik merupakan salah satu keutamaan yang harus kita usahakan, perdalam dan perkuat. Indera pendengaran atau kegiatan mendengarkan merupakan indera yang pertama kali aktif dan paling banyak aktif daripada indera-indera lainnya, tentu saja asal tidak tuli. Apa yang kita dengarkan akan membentuk pribadi kita, mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Apa yang kita dengarkan dapat merubah pikiran kita, yang pada gilirannya merubah rencana atau kegiatan. Kita semua kiranya mendambakan bahwa jika terjadi perubahan hendaknya berubah lebih baik atau menjadi baik, maka baiklah kita berusaha untuk mendengarkan apa-apa yang baik dan sebaliknya memperdengarkan atau berkata-kata apa-apa yang baik. Ingat dan hayati bahwa sebagai sahabat Tuhan kita dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta kabar baik.

 

Pelaksanaan atau penghayatan aneka macam aturan dan tatanan hidup pada masa kini sungguh memprihatinkan. Aneka aturan atau tatanan dibuat dan diundangkan atau diberlakukan, namun 'hangat-hangat tahi ayam', artinya dilaksanakan dengan baik jika ada pengawasan ketat, dan ketika tiada pengawasan orang bertindak seenaknya untuk melanggar aneka aturan dan tatanan hidup. Dengan kata lain kedisiplinan dan kejujuran di antara kita sungguh memprihatinkan. Ada kebiasaan tidak disiplin yang dimaklumi umum, misalnya: undangan rapat atau pertemuan dikatakan mulai pk 08.00, tetapi sering baru dimulai pk 09.00, dan panitia pengundang diam saja, tidak minta maaf tanpa alasan. Kebiasaan mulai terlambat dan pulang lebih awal hemat saya merupakan sikap mental yang merusak hidup pribadi maupun hidup bersama. Kita semua dipanggil untuk menjadi pelaksana-pelaksana yang disiplin dan jujur. Keunggulan hidup beriman terletak dalam pelaksanaan bukan omongan atau wacana, dalam penghayatan bukan dalam diskusi atau perdebatan. "Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati." (Yak 2:26),  demikian kata Yakobus. Marilah kita berlomba menjadi pelaksana-pelaksana aturan dan tatanan hidup yang baik di dalam hidup kita sehari-hari, dimanapun dan kapanpun.

 

"Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu!"

(Mzm 45:10bc-12ab)

 

Jakarta, 15 Agustus 2010        

  


14 Agustus - Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15

"Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

(Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15)

 

"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ" (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maksimilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Anak-anak memang lebih suci daripada orangtuanya. Cirikhas seorang anak antara lain: terbuka dan siap sedia diperlakukan apa saja, yang menandakan keterbukaan terhadap kehendak Tuhan, maka Yesus bersabda "Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga". St.Maksimilianus Maria Kolbe, yang kita rayakan hari ini berani mempersembahkan hidup kepada alias mati demi Tuhan karena anak-anak. Konon ada seorang bapak tahanan yang akan dihukum mati dan bapak tersebut memiliki banyak anak, maka Maria Kolbe, yang juga menjadi tahanan bersamanya, dengan rendah hati bersedia mengganti terhukum mati tersebut dan memang diizinkan; ia bersedia mati demi anak-anak yang membutuhkan cintakasih orangtuanya. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memperhatikan anak-anak secara memadai. Para orangtua maupun guru/pendidik hendaknya lebih takut jika anak-anak tidak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman daripada takut terhadap yang lain. Di dalam hidup beriman atau beragama yang dihormati, dilayani dan dimuliakan adalah mereka yang suci, maka karena anak-anak lebih suci daripada orangtua atau orang dewasa, kami berharap kepada orangtua atau orang dewasa untuk menghormati, melayani dan memuliakan anak-anak. Anak-anak, termasuk kita semua, ada dan dilahirkan serta dibesarkan dalam dan oleh 'cintkasih dan kebebasan Injili', maka hendaknya mereka juga dibesarkan dan dididik dalam semangat 'cintakasih dan kebebasan'. Cintakasih itu bebas alias tak terbatas oleh apapun, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Dalam dan oleh cintakasih kita dapat berbuat apapun asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau  citra Allah.

·   "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia -- ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yeh 18:5-9). Kutipan dari Kitab Yeheskiel ini hemat saya cukup jelas sebagai ajakan atau perintah moral yang harus kita lakukan atau hayati dalam hidup sehari-hari. Maka marilah kita saling membantu atau bekerjasama dalam menghayati ajakan tersebut, antara lain jika ada saudara kita yang melanggar perintah tersebut hendaknya segera ditegor, diingatkan dan dibetulkan dengan rendah hati dan dalam cintakasih. Para orangtua kami harapkan dapat menjadi teladan penghayatan perintah tersebut bagi anak-anaknya di dalam keluarga, sehingga anak-anak sedini mungkin terbiasa untuk menjadi orang-orang benar, yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Ada aneka macam ketetapan dan peraturan Allah, yang kemudian diterjemahkan  kedalam aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama, maka baiklah kita senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sekali lagi secara khusus saya mengingatkan dan mengajak rekan-rekan suami-isteri untuk setia pada janji perkawinan, yaitu 'saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati'.

 

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)

Jakarta, 14 Agustus 2010


Kamis, 12 Agustus 2010

13 Agustus - Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12)


"Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Harian Suara Karya 15 Agustus 2009 antara lain memberitakan bahwa di Indonesia setiap tahun ada sekitar 2 juta pasangan menikah dan 200.000 perceraian, berarti 10% pernikahan bercerai.  Angka 10% kiranya cukup besar dalam hal ini, apalagi dampak yang akan terjadi dari perceraian. Yang sering menimbulkan perceraian antara lain adanya perbedaan, misalnya beda selera, beda pikiran, beda suku, dst.. Laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, saling ingin mendekat dan bersahabat serta mengasihi, tergerak untuk saling melengkapi. Itulah misteri ilahi, yang hendaknya kita imani. Maka hendaknya aneka perbedaan menjadi daya tarik, daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, jangan menjadi sumber permusuhan atau perpisahan. Ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang sama persis alias identik: manusia kembar pun tidak identik, pasangan anggota tubuh kita yang nampak samapun tidak sama persis, misalnya dua buah dada, dua daun telinga, dua lobang hidung, dua buah pelir, dll.  Alasan perceraian adalah kedegilan hati, hati yang membatu dan tak mungkin ditembus dengan peluru. Memang setia pada janji perkawinan selain karena jerih payah atau usaha keras pasangan yang bersangkutan, juga dan terutama merupakan anugerah Tuhan, sebagaimana apa yang berbeda merupakan karya Tuhan. Kesetiaan antara suami-isteri dalam saling mengasihi sampai mati merupakan dasar dan kekuatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai sejahtera.


·   "Engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat" (Yeh 16:15), demikian sindiran Tuhan kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeheskiel. "Mengandalkan kecantikan untuk bersundal atau melacur' itulah sindirannya. Memang gadis cantik akan lebh mudah melacurkan diri dan pada umumnya akan cepat menjadi kaya raya akan uang dengan menjual dirinya alias melacur. Kecantikan merupakan anugerah Tuhan dan harus kita syukuri dan terima kasihi, jangan dikomersialkan entah dengan pelacuran atau iklan-iklan aneka macam produk. Kecantikan juga merupakan symbol apa yang baik indah, luhur dan mulia di dalam diri kita masing-masing, maka baiklah kecantikan hendaknya menjadi dorongan atau motivasi bagi kita semua, entah yang berssangkutan sendiri yang merasa cantik maupun orang lain, untuk semakin mendekatkan diri kita dengan Tuhan alias memuji dan memuliakan Tuhan. Dengan kata lain ketika melihat gadis atau perempuan cantik hendaknya dipuji seperlunya saja, tanpa dirayu atau disanjung-sanjung secara berlebihan. Kepada rekan-rekan gadis atau perempuan yang cantik dan pada umumnya menjadi perhatian banyak orang, kami harapkan menjadikan diri sebagai dorongan atau motivasi bagi mereka yang memperhatikan untuk semakin memuji, memuliakan, mengabdi dan menghormati Tuhan. Jauhkan atau hindari gaya atau cara hidup yang merangsang orang lain untuk berpikiran jahat atau berdosa; hendaknya kecantikan anda tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berdosa atau melakukan kejahatan. Jadikan kecantikan anda sebagai sarana atau wahana membangun, memperdalam dan memperkuat persaudaraan atau persahabatan sejati.

 

" Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi"

(Yes 12:2-5) Jakarta, 13 Agustus 2010


Rabu, 11 Agustus 2010

12 Agustus - Yeh 12:1-12; Mat 18:21-19:1

"Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku ?"

(Yeh 12:1-12; Mat 18:21-19:1)

 

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:21-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  .

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami", demikian kutipan dari doa Bapa kami, doa harian, doa yang mungkin lebih dari sekali kita doakan setiap hari. Pertanyaannya: "apakah doa tersebut meresapi dalam hati dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari?". Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup saling mengampuni. Hendaknya kita saling mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh berarti suatu ajakan atau panggilan untuk selalu saling mengampuni. Kita semua dipanggil untuk senantiasa menyalurkan kasih pengampunan Allah yang telah kita terima secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita sejak masih berada di dalam kandungan ibu kita masing-masing telah menerima kasih pengampunan sampai saat ini, lebih-lebih dari atau melalui ibu kita menerima kasih pengampunan, sebagaimana disenandungkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali,  bagai sang surya menyinari dunia". Semoga para ibu dapat menjadi saksi atau teladan dalam pengampunan ini di dalam hidup sehari-hari. Salah satu cara agar kita dapat dengan mudah dan enak mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita, antara lain hendaknya kita senantiasa menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa serta dengan rendah hati senantiasa melihat apa yang baik dalam diri orang yang telah menyalahi kita tersebut. Ingat bahwa mereka yang menyalahi kita belum tentu salah, karena mungkin mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat, dan orang yang tidak tahu berarti tidak salah.


·   "Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak. Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak." (Yeh 12:2-3). Para pemberontak memang memiliki mata dan telinga, tetapi tidak melihat dan mendengarkan, dan pada umumnya hidup dan bertindak hanya mengikuti kemauan sendiri atau selera pribadi. Kita dipanggil untuk menyadarkan para pemberontak, entah dalam kehidupan bersama kita di tingkat apapun dan dimanapun, dan kiranya terutama yang ada di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Kami percaya diam-diam di antara anggota keluarga ada yang ingin memberontak atau sudah memberontak, misalnya tidak taat pada aturan atau kebijakan dalam keluarga atau pada orangtua. Kiranya cukup banyak anak-anak yang menjadi pemberontak alias melawan orangtuanya. Anak-anak yang demikian ini hemat saya mereka merasa kurang dikasihi, maka penyadaran bagi mereka berarti menyadarikan mereka sebagai yang dikasihi atau yang terkasih. Ingatkan dan ajaklah anak-anak untuk menyadari dan menghayati diri kembali ketika masih berada di dalam rahim ibu, masih bayi yang sering menangis dan mengganggu ibu, dst.. dan ibu tidak marah atau membenci melainkan tetap setia mengasihi. Jika mungkin anak-anak diminta membaca buku mungil yang berjudul 'Sembilan bulan dalam kandungan atau rahim ibu'. Dalam kutipan di atas diingatkan bahwa untuk menyadarkan pemberontak kita diharapkan menempatkan diri sebagai yang terbuang, alias menjadi korban pemberontakan. Kami percaya di dalam hati kecil pemberontak pasti masih ada kasih, dan ketika melihat orang terbuang dan menderita pasti tersentuh untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

 

"Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka" (Mzm 78:56-58)

 

Jakarta, 12 Agustus 2010