Selasa, 13 April 2010

15 Apr - Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36

"Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya".

(Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36)

 

"Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yoh 3:31-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua diciptakan oleh Allah, maka boleh dikatakan bahwa kita semua berasal dari Allah atau 'datang dari sorga', maka sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini kita dipanggil untuk senantiasa berada 'diatas ciptaan-ciptaan Allah yang lain di dunia' ini, misalnya aneka jenis binatang dan tanaman, flora dan fauna, apalagi harta benda atau uang sebagai hasil karya manusia.  Dengan kata lain kita semua hendaknya senantiasa berbakti kepada Allah dalam hidup mendunia saat ini, dan tidak berbakti kepada ciptaan lainnya atau harta benda dan uang alias 'berbakti kepada berhala modern'. Masa kini rasanya masih cukup banyak orang yang berbakti kepada berhala-berhala modern tersebut, dengan lebih menggantungkan/mengandalkan diri kepada manusia,  binatang, tanaman atau harta benda dan uang daripada Allah. Gejala atau tandanya adalah ketika kehilangan harta benda, uang, tanaman, binatang atau manusia mengalami stress berkepanjangan, bahkan ada yang sampai hendak bunuh diri. Kita dipanggil untuk berada di atas ciptaan lainnya di dunia ini berarti ciptaan-citpaan tersebut kita sikapi dan fungsikan sebagai sarana atau wahana untuk semakin menyucikan diri, semakin berbakti/beriman kepada Allah. Sarana adalah sarana bukan tujuan, maka janganlah menjadikan sarana menjadi tujuan.  Dengan ini juga kami berharap, seiring dengan kecenderungan pemanasan global yang terus berlangsung, kepada kita semua untuk tidak seenaknya membabat hutan, membuang sampah sembarangan, menghemat pemakaian air maupun tenaga listrik dan bahan-bahan baker, dst.. Pengalaman menunjukkan ketika kita serakah memfungsikan ciptaan-ciptaan tersebut muncul tanah longsor, banjir bandang dll, yang menyengsarakan dan mencelakakan banyak orang.

·   "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5:29), demikian jawaban Petrus dan rasul  lainnya menanggapi tekanan atau larangan dalam mewartakan Kabar Baik. Taat kepada Allah dalam hidup sehari-hari di dunia saat ini antara lain dapat kita hayati dengan mentaati siapapun yang lebih dekat dan mesra bersama dan bersatu dengan Allah alias suci. Mereka yang lebih suci selayaknya kita taati, bukan karena lebih tua, berpangkat, berkedudukan, kaya, pandai dst… Secara kronologis dan sosial kiranya kita harus mengakui bahwa anak-anak lebih suci daripada orangtuanya, para peserta didik lebih suci daripada para gurunya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, dst... Maka dengan ini kami berseru: hendaknya para orangtua lebih taat kepada anak-anaknya artinya melayani dan mengabdi anak-anak demi kebahagiaan dan kesejahteraan mereka masa kini maupun masa depan, demikian para guru terhadap para peserta didik, generasi tua terhadap generasi muda. Tanda bahwa orangtua, guru atau generasi tua melayani anak-anak, peserta didik atau generasi muda dengan baik dan memadai adalah anak-anak, peserta didik, generasi muda ketika menjadi dewasa akan lebih baik, lebih suci, lebih cerdas, lebih dewasa, dst.. daripada orangtua, guru atau generasi tua. Salah satu cara melayani anak-anak, peserta didik dan generasi muda antara lain memberi kesempatan dan kemungkinan bagi mereka untuk belajar dan dididik sebaik dan seluas mungkin. Ketika kita terbiasa melayani mereka yang lebih muda dari kita kiranya kita dalam hidup sehari-hari juga akan lebih taat kepada Allah daripada manusia, lebih mentaati mereka yang bekehendak baik tanpa pandang bulu, SARA, usia dst… Jika kita semua hidup dan bertindak dengan taat keapada Allah berarti kebersamaan hidup kita dijiwai oleh cintakasih dan dengan demikian kita saling mengasihi.

 

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu" (Mzm 34:2-6)

 

Jakarta, 15 April 2010       .

        


Senin, 12 April 2010

13 Apr - Kis 4:32-37; Yoh 3:7-15

"Setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal"

(Kis 4:32-37; Yoh 3:7-15)

 

"Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:7-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Hidup yang kekal" berarti hidup mulia di sorga bersama Allah Pencipta untuk selama-lamanya setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Kita semua kita mendambakan hidup yang kekal, maka marilah selama hidup di dunia saat ini kita senantiasa percaya kepadaNya, percaya kepada Yesus dengan menghayati semua ajaranNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Untuk meneladan cara hidup dan cara  bertindak Yesus kita dapat membaca dan mengetahui melalui apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Apa yang dilakukan oleh Yesus antara lain "memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kelaparan, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian yang telanjang, mengunjungi mereka yang menderita sakit atau berada di dalam penjara" (bdk Mat 25: 34-46). Di dalam lingkungan hidup maupun kerja kita kiranya ada saudara-saudari kita, yang lapar, haus, terasing, telanjang, sakit atau terpenjara, entah secara phisik maupun spiritual, maka marilah kita cermati lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing. Dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita perhatikan mereka yang sungguh membutuhkan bantuan. Jika kita sungguh percaya kepada Yesus, kepada Tuhan kiranya kita tergerak untuk berbelas-kasihan kepada mereka yang lapar, haus, telanjang, sakit atau terpenjara. Jika kita mampu menolong secara duniawi kepada mereka, maka kita akan terbantu untuk menolong mereka secara spiritual atau rohani, sebaliknya jika secara duniawi saja kita pelit terhadap sesama kita, maka kita juga akan pelit memperhatikan hal-hal spiritual atau rohani.

·   "Tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya" (Kis 4:34-35), demikian berita perihal cara hidup jemaat perdana/purba, zaman para rasul.  Jika kita memperhatikan aneka informasi kiranya kita tahu bahwa masih cukup banyak orang yang berkekurangan secara phisik atau dalam hal-hal duniawi alias miskin dalam hal harta benda dan uang. Selama masih ada orang yang berkekurangan dalam lingkungan hidup kita berarti ada ketidak-beresan dalam hal hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Allah menciptakan manusia serta ciptaan-ciptaaan lainnya demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua manusia, dan apa yang diciptakan senantiasa baik adanya; makanan dan minuman disediakan secukupnya bagi seluruh umat manuia. Maka ketika masih ada yang berkekurangan berarti ada sementara orang yang serakah, egois dan cari enak sendiri, yang antara lain berpedoman 'menumpuk kekayaan untuk tujuh turunan'. Dengan ini kami mengharapkan mereka yang kaya akan harta dan uang atau berlebihan untuk sosial, memperhatikan saudara-saudari yang berkekurangan, mungkin tidak sampai seperti yang dilakukan jemaat purba, yang menjual seluruh kepunyaannya dan hasil penjualan diberikan kepada yang miskin dan berkekurangan, tetapi paling tidak telah terjadi pengorbanan dalam diri kita. Hendaknya semuanya setia pada bagian doa harian, doa Bapa Kami, yang kiranya kita doakan setiap hari, yaitu "Berilah kami hari ini rezeki secukupnya", secukupnya berarti sederhana sesuai tuntutan hidup sehat, bukan sebanyak-banyaknya.

 

"TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada. Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa." (Mzm 93:1-2.5)

.

Jakarta, 13 April 2010


Minggu, 11 April 2010

12 Apr - Kis 4:23-31; Yoh 3:1-8

"Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah"

(Kis 4:23-31; Yoh 3:1-8)

"Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." (Yoh 3:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Dilahirkan dari air dan Roh"  berarti dibaptis, dipersembahkan atau disisihkan seutuhnya kepada Tuhan, sehingga setelah dibaptis yang bersangkutan dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, atau menghayati janji baptis dalam hidup sehari-hari: hanya mau mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan. Maka baiklah kita semua yang telah dibaptis kami ajak untuk mawas diri: sejauh mana saya senantiasa hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak godaan setan dalam hidup sehari-hari, yang berarti semakin tambah usia dan pengalaman hidup juga semakin suci atau semakin beriman. Karena kita beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia, maka lingkungan hidup kita juga disucikan alias dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, sehingga tempat/kamar/ruang, aneka macam sarana-prasarana dan suasana mendukung semua orang yang ada di dalamnya semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Hidup dari Roh berarti cara hidup dan cara bertindaknya menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23), maka ketika kita saling bertemu atau bergaul dengan orang yang sama-sama telah dibaptis akan saling mengasihi, bersukacita, menyampaikan damai sejahtera, sabar, berbaik hati dst…Rahmat baptisan merupakan dasar hidup beriman kepada Yesus Kristus, maka jika kita setia pada rahmat atau janji baptis, hemat saya dengan mudah juga kita setia pada panggilan hidup kita masing-masing: sebagai suami-isteri, imam, bruder, suster/hidup wadat, dst…

·   "Ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani" (Kis 4:31), demikian berita perihal apa yang terjadi dalam diri para rasul bersama dengan pengikut-pengikut mereka. Karena anugerah Roh Kudus "mereka memberitakan firman Allah dengan berani". Kita semua telah menerima anugerah Roh Kudus, maka marilah tanpa takut dan gentar memberitakan firman Allah dimanapun kita berada atau kemanapun kita pergi. Firman Allah antara lain dapat kita ketemukan dalam Kitab Suci, yang rasanya semua firman atau sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci dapat dipadatkan kedalam firman atau sabda utamaNya yaitu saling mengasihi satu sama lain, sebagaimana Allah telah mengasihi kita, yaitu dengan saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Sekali lagi saya mengingatkan hendaknya firman atau perintah Allah untuk saling mengasihi ini pertama-tama terjadi di dalam keluarga, dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu, yang telah saling menyerahkan diri dan berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Bukankah para suami-isteri sudah sehati, sejiwa, seakal budi dan setubuh/bersetubuh?  Mungkin bersetubuh sudah dilaksanakan, tetapi apakah sudah sehati, sejiwa dan seakal budi rasanya masih menjadi pertanyaan atau jauh dari harapan dan dambaan.  Maka baiklah kita saling mengingatkan satu sama lain di dalam hidup berkeluarga, ketika melihat atau menyaksikan rekan kita dalam hidup berkeluarga menghadapi ancaman atau gangguan yang mengarah ke perceraian, marilah kita tolong dan ingatkan mereka.

 

"Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: "Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!"

(Mzm 2:1-3)

Jakarta, 12 April 2010


Sabtu, 10 April 2010

11 Apr - Kis 5:12-16; Why 1:9-11a.12-13.17-19; Yoh 20:19-31

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Mg Paskah II /Mg Kerahiman Ilahi: Kis 5:12-16; Why 1:9-11a.12-13.17-19; Yoh 20:19-31


Dalam suatu kesempatan audiensi dengan umat katolik yang berziarah ke Roma, di lapangan Santo Petrus, Paus Yohanes Paulus II, berkeliling dengan berdiri di atas bak mobil terbuka untuk memberi salam dan memberkati umat. Tiba-tiba ada seorang lelaki menembak Paus, dan Paus pun  tersungkur didukung oleh para pengawalnya. Begitu sadar Paus langsung berkata bahwa Yang Mulia mengampuni penembaknya. Apa yang dikatakan tersebut menjadi kenyataan ketika Paus telah sembuh dari sakitnya, Paus mengunjungi penembaknya yang pada waktu itu berada di sel penjara. Sang penembak pun dengan menyesal mengaku dosa di hadapan Paus dan Paus menyampaikan kasih pengampunan atau kerahiman Ilahi kepadanya. Peristiwa itu kiranya layak kita kenangkan dalam rangka merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi hari ini. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus yang telah bangkit dari mati kepada para murid, kepada kita semua, di bawah ini.

 

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:22-23)

Kerahiman dalam bahasa Latin adalah 'misericordia' ; sedangkan 'misericordia'  dapat berarti kasihan, belas-kasihan, kerahiman, kerelaan, kemurahan, kedermawanan'. Yesus mengugerahkan Roh Kudus kepada para rasul beserta para penerusnya masa kini yaitu para uskup beserta para pembantunya, para imam, serta kuasa untuk 'mengampuni dosa orang atau menyatakan dosa orang tetap ada'.  Hemat saya apa yang lebih banyak telah diberikan dan kita terima adalah pengampunan atau kerahiman ilahi, maka selayaknya kita bersyukur dan berterima kasih dengan meneruskan pengampunan atau kerahiman Ilahi tersebut kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Dalam menyampaikan pengampunan atau kerahiman ilahi kiranya secara implicit juga kita sampaikan keutamaan-keutamaan seperti arti dari kata misericordia diatas, yaitu belas-kasih,  kerelaan, kemurahan dan kedermawanan. Maka kerahiman Ilahi kiranya juga dapat diwujudkan dalam bentuk harta benda atau uang, lebih-lebih dan terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

Masing-masing dari kita pernah tinggal penuh cintakasih dan kerahiman di rahim ibu kita masing-masing selama kurang lebih sembilan bulan lamanya sebelum dilahirkan di dunia ini, dan kiranya setelah dilahirkan juga menerima terus menerus kerahiman dan kasih pengampunan dari ibu kita masing-masing. Bukankah ketika kita masih bayi sering rewel dan mengganggu ketenangan ibu dan ibu tidak marah, melainkan dengan penuh kasih mesra dan kerahiman memeluk, menciumi dan membelai serta menimang-nimang kita? Dengan kata lain masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan dan kerahiman secara melimpah ruah, maka panggilan untuk membawa dan memberitakan kasih pengampunan maupun kerahiman hemat saya tidak sulit asal tidak pelit, karena kita tinggal meneruskan apa yang telah kita miliki secara melimpah ruah.

 

Rekan-rekan kaum wanita atau perempuan memiliki rahim, dan secara khusus bagi yang telah menjadi ibu kiranya telah mewartakan kasih pengampunan dan kerahiman luar biasa terutama dan lebih-lebih bagi anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan serta dilahirkan dalam derita yang membahagiakan. Maka kami berharap rekan-rekan wanita atau perempuan sungguh dapat menjadi saksi kasih pengampunan dan kerahiman Ilahi di dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga maupun tempat kerja, dimana setiap hari memboroskan waktu dan tenaga. Terutama di dalam keluarga hendaknya para ibu dapat menjadi 'pahlawan kasih pengampunan dan kerahiman Ilahi' bagi suami maupun anak-anaknya. Pengalaman akan apa yang terjadi di dalam keluarga akan sangat berpengaruh bagi semua anggota keluarga di dalam kehidupan bersama yang lebih luas, entah di dalam masyarakat, tempat kerja atau dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

"Mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan" (Kis 5:15-16)       

 

Kerahiman Ilahi melalui Petrus sungguh luar biasa, karena melalui Petrus banyak orang disembuhkan dari aneka macam penyakit, bahkan mereka menerima bayangan Petrus yang sedang lewat pun percaya akan disembuhkan dari sakit atau gangguan roh jahat. Kiranya kita semua yang beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati juga dipanggil untuk bersaksi seperti Petrus, kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya memotivasi sesama untuk bertobat atau lebih bergairah dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusannya. Memang untuk itu kita sendiri diharapkan senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari alias berbudi pekerti luhur atau cerdas spiritual.

 

Beriman pada Yesus yang telah bangkit dari mati diharapkan menjadi pribadi yang menarik, memikat, mempesona bagi orang lain untuk mendekat pada kita serta kemudian bersahabat mesra dengan kita. Mereka yang sedang menghadapi aneka masalah atau kesulitan, yang sedang menderita sakit atau kurang bergairah dalam kehidupan, dst.. tergerak untuk mendatangi kita serta mohon ditolong, maka baiklah kita tetap menjaga diri sebagai pribadi yang menarik, mempesona dan memikat. Marilah kita dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan senantiasa berusaha untuk 'bermurah hati dan berderma' kepada saudara-saudari kita, terutama yang miskin dan berkekurangan. Bermurah  hati berarti menjual hati dengan murah kepada siapapun alias memperhatikan siapapun yang dijumpai atau hidup bersama dengan kita, sedangkan berderma rasanya erat kaitannya dengan harta benda atau uang, maka berarti memberi bantuan harta benda atau uang dengan sukarela dan besar hati.

 

Secara kelompok atau organisatoris kita semua juga diharapkan menjadi daya tarik, pikat dan mempesona bagi orang lain: keluarga kita, tempat kerja/kantor kita, kampung atau lingkungan hidup kita, dst.. Tanda bahwa kebersamaan hidup atau kerja kita menarik, memikat dan mempesona, antara lain adalah bahwa mereka yang pernah bergabung dengan kita atau bersama dengan meskipun hanya sesaat saja akan menceritakan atau menyebarluaskan pengalaman yang baik dan membahagiakan; dengan kata lain mereka yang pernah tinggal dan bekerja bersama dengan kita menjadi 'sarana marketing'  kebersamaan hidup maupun karya-karya pelayanan kita.  Maka dengan ini kami berharap kepada semua anggota, dalam bentuk hidup dan kerja apapun, untuk saling bekerjasama satu sama lain sehingga kebersamaan sungguh mempesona, menarik dan memikat.

 

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. TUHANlah Allah, Dia menerangi kita."

 (Mzm 118:22-27a)

 

Jakarta, 11 April 2010

     


Jumat, 09 April 2010

10 Apr Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15

"Pergilah ke seluruh dunia beritakanlah Injil kepada segala makhluk".

(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)

 

"Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk bepergian, entah jarak jauh atau jarak dekat, dan bertemu dengan sesama serta ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk 'memberitakan Injil kepada segala makhluk' dimanapun kita berada atau kemanapun kita pergi. Injil berarti kabar gembira atau kabar baik, maka memberitakan Injil berarti memberitakan atau menyebarluaskan apa yang baik dan menggembirakan. Tentu saja untuk itu kita sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan baik dan gembira. Mungkin kondisi fisik atau tubuh kita tidak selalu dalam keadaan baik alias sedang menderita sakit, namun demikian kita tetap dipanggil untuk gembira. Dalam memberitakan kabar baik atau kabar gembira kiranya pertama-tama dan terutama kita sampaikan kepada saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita, saling memboroskan waktu dan tenaga, entah di dalam keluarga maupun tempat kerja/tugas. Ketika dengan saudara-saudari kita yang dekat kita dapat saling memberitakan apa yang baik dan menggembirakan, maka kiranya dengan mudah kita memberitakan apa yang baik dan menggembirakan kepada orang lain, yang kita jumpai atau temui dimanapun dan kapanpun. Kita kiranya dapat meneladan Yesus yang menampakkan diri kepada berbagai orang, seperti yang kerasukan setan, berkabung atau menangis, dst..Marilah kita datangi mereka untuk menghibur dan menggembirakan mereka, membebaskan mereka dari aneka derita dan kesusahan.

·   "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis 4:19-20), demikian kata Petrus dan Yohanes menanggapi larangan para imam besar Yahudi agar mereka tidak memberitakan Yesus yang telah bangkit dari mati. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladan Petrus dan Yohanes, yaitu lebih taat kepada Allah daripada manusia. Taat kepada Allah antara lain taat dan setia menghayati kehendak Allah , yang antara lain dapat kita temukan dalam visi, spiritualitas atau pedoman hidup yang terkait dengan panggilan atau tugas pengutusan kita masing-masing,  serta dengan tidak takut dan gentar menyuarakan apa yang benar, baik, suci, luhur dan mulia. Memang untuk itu pada masa kini, sebagaimana juga pada masa Gereja Purba, kita pasti akan menghadapi aneka macam ancaman atau tekanan dari beberapa oknum penguasa atau yang berwenang dalam hidup bersama, yaitu mereka yang gila akan harta benda, pangkat/kedudukan maupun kehormatan duniawi. Dengan ini kami juga berharap kepada para pejuang kebenaran untuk tidak takut dan gentar menghadapi aneka ancaman dan tekanan; sebaliknya kepada para penegak kebenaran, seperti hakim, jaksa, penuntut maupun polisi kami harapkan sungguh menghayati fungsi atau jabatannya dalam rangka menegakkan kebenaran: jauhkan aneka macam bentuk 'makelar kasus' atau kebohongan. Kepada para penguasa atau yang berwenang mengatur dan mengendalikan hidup bersama kami berharap tidak membungkam para pejuang kebenaran, yang memang pada umumnya kritis terhadap aneka macam peristiwa dan kebijakan yang dinilai tidak adil atau tidak benar. Kami berharap para pemimpin dan penguasa berpedoman pada kesejahteraan umum atau 'bonum commune'.

 

"TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" (Mzm 11:14-16)

          

Jakarta, 10 April 2010


Kamis, 08 April 2010

9 Apr - Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu maka akan kamu peroleh."

(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)

 

"Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu."(Yoh 21:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang kecewa atau frustrasi pada umum hidup dan bertindak seenaknya sendiri, alias mengikuti keinginan pribadi serta kurang atau tidak memperhatikan aneka aturan dan tatanan hidup yang berlaku. Begitulah kiranya yang terjadi di antara para murid, yang kecewa karena ditinggal oleh Yesus: sebelum mengikuti Yesus mereka terbiasa mencari/menjala ikan, dan ketika harus mengikuti Yesus mereka meninggalkan semuanya itu. Kini mereka ditinggalkan Yesus, maka untuk menghibur diri mereka kembali ke hobby atau kebiasaan lama, yaitu mencari/menjala ikan. Mereka adalah nelayan-nelayan yang cukup berpengalaman, namun sepanjang malam tak seekor ikan pun dapat mereka tangkap, tetapi ketika mereka menebarkan jala atas perintah Tuhan Yesus mereka dapat menangkap ikan cukup banyak alias berhasil. Pengalaman para murid ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita: hidup dan bertindak kita. Hendaknya kita tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi, melainkan mengikuti aturan atau tatanan hidup yang berlaku atau sesuai dengan visi, charisma, pedoman hidup bersama. Sebagai umat beragama hendaknya mentaati semua aturan dan ketetapan dalam hidup beragama; sebagai pekerja hendaknya mentaati peraturan atau janji kerja, sebagai siswa atau mahasiswa hendaknya mentaati janji setia pelajar/mahasiswa, sebagai anggota lembaga hidup bakti hendaknya menghayati charisma pendiri, dst..

·   "Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan -- yaitu kamu sendiri --, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kis 4:11-12), demikian kutipan tanggapan Petrus terhadap para imam besar Yahudi. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, jika menghendaki hidup selamat dan berbahagia, hendaknya senantiasa menghayati ajaran-ajaran Yesus atau meneladan cara bertindakNya. Paling tidak , jika rajin, setiap minggu kita berpartisipasi di dalam Ibadat Sabda atau Ekaristi, dimana dibacakan dan direnungkan sabda-sabda Yesus; jika setiap hari berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi berarti setiap hari mendengarkan sabda-sabda Yesus. Maka dengan ini kami berharap: hendaknya ketika sedang dibacakan dan direnungkan sabda-sabda Yesus, kita sungguh mendengarkan dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tubuh. Ingat bahwa iman muncul dan diperkuat melalui pendengaran dengan mendengarkan. Kami percaya jika kita sungguh mendengarkan sabda-sabda Tuhan, mau tidak mau kita pasti akan dipengaruhi dan dikuasaiNya, karena Tuhan mahasegalanya. Marilah kita hayati bahwa sebagai orang beriman atau beragama kita juga dibentuk atau dibina oleh sabda atau kata-kata yang penuh kuasa dan wibawa, seperti sabda Tuhan. Kami berharap kebiasaan mendengarkan dengan baik ini sedini mungkin dididikkan atau dibinakan pada anak-anak di dalam keluarga, dan tentu saja dengan teladan orangtua/bapak-ibu. Ingat dan hayati juga bahwa dalam hal berdoa pun yang utama dan pertama-tama kita lakukan dan hayati adalah 'mendengarkan'.

 

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. TUHANlah Allah, Dia menerangi kita " (Mzm 118:22-27a).

 

Jakarta, 9 April 2010