Senin, 06 Agustus 2012

7Agt

"Tenanglah! Aku ini jangan takut!"
(Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36)

" Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh" (Mat 14:22-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   "Jangan takut" merupakan sabda Tuhan yang terarah kepada orang-orang yang terpilih untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan para rasul yang ketakutan karena dalam perjalanan melalaui danau diombang-ambingkan oleh ombak: mereka takut perahu karam dan akhirnya semuanya tenggelam. Karena ketakutan mereka, Yesus yang datang untuk menyertai mereka pun disikapi sebagi hantu yang menakutkan. Kisah ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri atau permenungan kita, dimana dalam perjalanan penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas pengutusan kita sering menghadapi masalah, tantangan, godaan dan jebakan, yang menakutkan dan dapat menenggelamkan kita ke dalam arus kejahatan. Sebagai orang beriman, marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, melainkan Dia terus-menerus menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita. Maka marilah kita lihat dan hayati kehadiran dan karyaNya dalam apa yang baik, indah, luhur dan mulia di tengah-tengah kita, yang antara lain menjadi nyata dalam diri orang yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik, maka marilah saling mengkomunikasikan kehendak baik kita serta kemudian kita sinerjikan guna menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dan godaan. Dalam kebersamaan dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita yang berkehendak baik tidak ada ketakutan sedikitpun. Penakut berarti kalah sebelum perang atau berjuang, marilah kita menjadi pemberani karena Tuhan senantiasa menyertai.

·   "Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli." (Yer 30:18), demikian Firman Tuhan melalui nabi Yeremia terhadap bangsa terpilih yang sedang berada dalam masa pembuangan. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, khususnya yang sedang dalam mengalami krisis, frustrasi atau takut karena penderitaan akibat dari kelalaian para pendahulu kita. Karena kelalaian para pendahulu kita maka ada kemungkinan hidup bersama amburadul, tak nyaman dan tak sejahtera dan tak damai-tenteram. Sekali lagi marilah kita lihat dan akui saudara-saudari kita yang berkehendak baik untuk memperbaiki situasi dan kondisi kehidupan bersama, kita dengarkan kehendak baik dan niatnya serta kemudian kita menyatukan diri dengannya. Di tengah-tengah kehidupan kita bersama pasti ada orang-orang yang menghayati rahmat kenabian, sehingga dengan rendah hati dan tekun menyuarakan aneka kebenaran dan ajakan guna memperbaiki situasi dan kondisi hidup bersama. Fungsi macam itu antara lain ada dalam diri para pemuka-pemuka agama: kyai, pendeta, pastor, biksu dst.., maka marilah kita dengarkan ajaran, nasihat, petuah, kotbah dan saran mereka , serta kemudian kita hayati bersama-sama guna memperbaiki hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Kepada para pemuka agama kami berharap tidak jemu-jemu dan terus-menerus mengingatkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa hidup dan bertindak baik, sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa saat ini kita berada dalam masa puasa saudara-saudari kita, umat Islam, maka marilah menyatukan diri pada mereka dalam rangka usaha memperbaiki diri, maupun situasi dan kondisi lingkungan hidup bersama.
"Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh" (Mzm 102: 19-22)
Ign 7 Agustus 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

6 Agt


"Rabi betapa bahagianya kami berada di tempat ini"
(2Pet 1:16-19; Mrk 9:2-10)
"Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati." (Mrk 9:2-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan "Yesus Menampakkan KemuliaanNya" hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita senantiasa mengalami suka dan duka, pencerahan dan kebingungan, atau dalam bahasa Latihan Rohani St.Ignatius Loyola disebut sebagai 'hiburan rohani atau kesepian rohani'. Yang terkait dengan Warta Gembira hari ini kiranya adalah 'hiburan rohani', yaitu "keadaan sewaktu dalam jiwa timbul suatu gerak batin, yang membuat jiwa jadi berkobar dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhannya" (St.Ignatius Loyola, LR no 316). Kami percaya kita sering mengalami hiburan rohani seperti para rasul yang menerima Penampakan Yesus dalam kemuliaanNya, merasa nikmat dan nyaman sekali. Dalam keadaan demikian lalu berkaul atau menjanjikan sesuatu yang indah dan ideal. Maka Yesus mengingatkan para rasul untuk sementara merahasiakan apa yang dialami maupun yang dijanjikan sampai puncak tugas Yesus, dimana Ia harus menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari wafatNya. Maka baiklah saya mengingatkan anda sekalian, lebih-lebih ketika sedang mengalami hiburan rohani, hendaknya jika tergerak untuk melakukan sesuatu, tidak yang muluk-muluk atau ideal, melainkan yang riel serta mungkin kita lakukan sesuai dengan kemampunan dan kesempatan yang kita miliki. Pengalaman 'hiburan rohani' pada umumnya juga terjadi dalam diri orang-orang yang baru saja 'menempuh hidup baru', sehingga menjadi suami-isteri baru, imam, bruder atau suster baru, pelajar atau pekerja baru dst.. , yang sering tergerak untuk menjanjikan sesuatu yang baik dan luar biasa. Kami harap anda tidak mengumbar janji-janji.
·   "Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."(2Pet 1:16-17), demikian kesaksian iman Petrus. "Dongeng-dongeng isapan jempol"  sering kita lakukan atau dengarkan. Dongeng-dongeng macam itu pada umumnya dilakukan oleh para penjahat atau penipu. Hari-hari ini kiranya banyak dari kita telah merencanakan perjalanan untuk mudik terkait dengan hari raya Idul Fitri. Kami ingatkan sedini mungkin kepada anda yang akan menempuh perjalanan, lebih-lebih yang menggunakan kendaraan umum seperti bis, untuk hati-hati terhadap orang-orang yang tak dikenal menawari sesuatu kepada anda, misalnya minuman atau makanan (yang telah dibubuhi obat bius): pada umumnya mereka bersikap manis dan mempesona untuk melakukan kejahatannya, merampas harta orang lain secara halus. Sebarkan peringatan saya ini ke teman-teman anda yang akan melakukan perjalanan dengan kendaraan umum. Kepada kita semua kami serukan: hendaknya jangan membuat dongeng-dongeng isapan jempol yang menjerumuskan, melaikan berkatalah perihal apa yang benar atau nyata. Tunjukkan bahwa diri kita adalah orang yang baik dan benar, bukan penipu atau pembohong. Hati-hati juga kepada para penjual sesuatu yang palsu atau orang-orang yang pura-pura menolong, padahal mau mencelakakan anda.
"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Mzm 97:1-2.5-6)
Ign 6 Agustus 2012

Sabtu, 04 Agustus 2012

Minggu Biasa XVIII


Mg Biasa XVIII: Kel 16:2-4.12-15: Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal"

Sikap mental budaya instant kiranya begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang masa kini, sebagai dampak maraknya atau membanjirnya aneka jenis makanan dan minuman instant di pasaran begitu bebas. Ada orang yang ingin cepat-cepat kaya dan untuk itu dengan seenaknya melakukan korupsi dalam tugas pekerjaan atau jabatannya, ada muda-muda atau generasi muda tergesa-gesa ingin menikmati hubungan seksual, padahal belum menjadi suami-isteri, dan yang cukup memprihatikan serta mendasari semuanya itu adalah para pelajar atau siswa ingin cepat naik kelas atau lulus ujian tetapi tidak pernah belajar, belajar ketika menjelang ulangan atau ujian. Budaya instant  sangat dekat dengan budaya materialistis, dimana kesuksesan atau keberhasilan hidup, penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas kewajiban berpedoman pada buah harta benda atau uang yang dapat diperoleh dan dikumpulkan. Orang bangga dengan memiliki harta benda atau uang banyak sekali, bangga memiliki gedung/rumah megah dan sarana-prasarana modern dan canggih, sehingga banyak orang mengaguminya, tetapi menjadi pertanyaan apakah mereka juga mengasihinya. Kami mengajak anda sekalian untuk hidup dan bekerja tidak terbatas pada kesuksesan materi, yang dapat musnah dalam sesaat, melainkan mengusahakan sesuatu yang bertahan sampai kekal, selamanya, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini.

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh 6:27)

Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup sebenarnya ada di dalam atau melekat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari, jika kita sungguh hidup baik dan bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan yang berlaku. Dengan kata lain 'bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal' , yaitu mengusahakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, hemat kami berupa memperjelas dan menyingkapkan nilai atau keutamaan yang telah kita hayati dalam hidup maupun kerja. "Values clarification" = pencerahan atau penyingkapan nilai-nilai, itulah yang harus kita usahakan bersama-sama dalam hidup dan kerja kita.

Para pendidik dan pemerhati pendidikan yang sungguh beriman dan bermoral mengusulkan pendidikan nilai atau keutamaan dalam proses pembelajaran atau pendidikan di masa awal Reformasi, yang dikoordinir oleh Prof Dr Edi Sedyawati dan menerbitkan buku kecil berjudul "Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur" (Balai Pustaka – Jakarta 1997). Dalam buku kecil ini diuraikan secara singkat apa yang dimaksudkan dengan budi pekerti luhur, yang antara lain berisi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan seperti "bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tatap janji, terbuka, ulet". Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya secara inklusif ada dalam cara hidup dan cara bertindak kita maupun saudara-saudari kita, maka marilah kita singkapkan, dan kemudian kita perdalam.

Saya tak jemu-jemunya mengingatkan dan mengajak para orangtua agar dalam mendidik dan membina anak-anaknya senantiasa lebih mengutamakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibiasakan untuk menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut di atas, dan para orangtua kiranya dapat memilih nilai atau keutamaan mana yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak maupun lingkungan hidupnya. Selanjutnya kami berharap kepada para pengurus, pengelola atau pelaksana karya pendidikan atau sekolah, lebih mengutamakan agar para peserta didik lebih unggul dan handal dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas, bukan dalam hal kepandaian atau kepintaran. Akhirnya kami berharap kepada para orangtua dan pendidik/guru dapat menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas.

"Kamu telah belajar mengenal Kristus.Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef 4:20-24).

Kutipan di atas ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, entah secara formal maupun informal atau siapapun yang berkehendak baik. Kita dipanggil untuk "menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya". Menjadi manusia baru berarti hidup suci atau kudus serta menghayati dan menyebarluaskan aneka kebenaran.

Suci atau kudus berarti membaktikan diri seutuhnya kepada kehendak dan perintah Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari dimana pun dan kapan pun, sehingga senantiasa memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Tuhan, tidak mengikuti caranya sendiri atau seenaknya sendiri. Maka kepada siapapun yang masih hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, hendaknya setia menghayati atau melaksanakan janji-janji yang telah dikrarkan ketika mulai menempuh dan mengarungi hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, hidup berkeluarga maupun hidup membujang.

 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu." (Kel 16:12), demikian firman Tuhan kepada Musa, yang sedang memimpin bangsa terpilih menuju 'tanah terjanji' . Firman ini kiranya baik untuk kita renungkan ketika di dalam perjalanan penghayatan hidup atau panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita menghadapi kesulitan, tantangan atau masalah berat, yang dengan mudah membuat kita mengeluh atau menggerutu. Baiklah jika kita mengeluh atau menggerutu, hendaknya diarahkan kepada Tuhan, dengan kata lain berdoa untuk mohon rahmat dan pencerahan serta kekuatan dari Tuhan. Percayalah jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan, maka Tuhan juga akan menganugerahkan aneka kebutuhan dan sarana-prasarana yang kita butuhkan, sehingga kita dengan bantuan rahmat Tuhan mampu menuntaskan panggilan maupun tugas pengutusan kita.

"Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit; setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah." (Mzm 78:23-25)

Ign 5 Agustus 2012


Jumat, 03 Agustus 2012

4 Agt


"Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

(Yeh 3:16-21; Mat 9:35-10:1)

"Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan." (Mat 9:35-10:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes Maria Vianney, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil untuk menjadi imam berarti harus berpartisipasi dalam karya penyelamatan Yesus, antara lain "mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan". St.Yohanes Maria Vianney, yang terkenal dengan pembaktian dirinya untuk menerimakan Sakramen Pengakuan di kamar pengakuan sampai berjam-jam setiap hari, kiranya lebih menghayati perutusan untuk 'melenyapkan segala penyakit dan kelemahan'. Ia juga menjadi pelindung bagi para imam, dengan harapan para imam dapat meneladan cara hidup dan cara bertindaknya dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk meneladan St.Yohanes Maria Vianney dalam pelayanan pastoralnya dalam karya macam apapun. Secara konkret memang para imam hendaknya senantiasa siap sedia kapan saja untuk menerimakan Sakramen Pengampunan bagi mereka yang memintanya, dan dalam cara hidup serta cara bertindaknya senantiasa mengampuni mereka yang bersalah, entah bersalah terhadap imam sendiri maupun orang lain. Kasih pengampunan hemat saya merupakan anugerah Tuhan yang telah kita terima secara melimpah ruah, maka selayaknya kita meneruskannya kepada orang lain dimana pun dan kapan pun. Yang terpanggil untuk hidup saling mengampuni kiranya tidak hanya para imam saja, melainkan kita semua umat beriman atau beragama. Marilah kita dimanapun dan kapanpun senantiasa hidup dan bertindak saling mengampuni satu sama lain, saling berusaha menyembuhkan aneka penyakit dan kelemahan.

·   "Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu." (Yeh 3:19-21). Apa yang difirmankan oleh Tuhan melalui nabi Yeheskiel ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita semua, umat beriman atau beragama. Kita semua dipanggil untuk segera mengingatkan dan menegor orang-orang berdosa atau yang melakukan kesalahan untuk bertobat atau memperbaharui diri. Jika kita tahu ada orang berdosa atau bersalah dan kita tidak mengingatkan atau membiarkan saja, maka kita bersalah, dan dari pihak kita dituntut tanggungjawab oleh Tuhan. Sebaliknya kami juga berharap kepada kita semua: ketika kita bersalah dan diingatkan atau ditegor oleh saudara-saudari kita hendaknya tidak melawan atau mempertahankan diri, melainkan dengan rendah hati ditanggapi dengan kata-kata singkat "terima kasih". Sadari dan hayati bahwa semua sapaan, sentuhan, tegoran atau peringatan sekeras apapun dan menyakitkan hati kita, hemat saya hal itu merupakan wujud kasih mereka terhadap kita, maka hendaknya disikapi dengan 'terima kasih'. Orang tak mungkin menegor, mengingatkan dan memarahi kita jika mereka tak mengasihi kita. Kita semua juga diingatkan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat jahat atau berdosa dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

"Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku; sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan" (Mzm 88:2-5)

Ign 4 Agustus 2012


Kamis, 02 Agustus 2012

3 Agustus


"Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat itu?"

(Yer 26:1-9; Mat 13:54-58)

" Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ" (Mat 13:54-58), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Heran dan kagum sering kita alami ketika melihat atau mengalami sesuatu yang baru dan luar biasa. Namun pada umumnya orang akan lebih mengagumi pembaharuan dan kehebatan orang lain yang jauh daripada mereka yang dekat. Maklum terhadap mereka yang dekat, hidup dan bekerja bersama sehari-hari pada umumnya orang begitu mengenal kelemahannya, melebihi kekuatan atau kehebatannya. Maka ketika ada sesuatu yang baru dan luar biasa yang terjadi atau dilakukan oleh saudara-saudarinya yang dekat pada umumnya orang heran dan curiga, sebagaimana dihayati oleh orang-orang Nazaret terhadap Yesus. Menanggapi keheranan dan kecurigaan orang-orang Nazaret Yesus berkata bahwa "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya". Kami harapkan kita semua saling menghargai dan menjujung tinggi kekuatan, anugerah, bakat, keterampilan saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerjasama dengan kita, yang kemudian menghasilkan aneka pembaharuan maupun hikmat atau mujizat. Tentu saja pertama-tama kami berharap hal ini terjadi di antara suami-isteri maupun kakak-adik di dalam keluarga. Dalam kenyataan dapat kita lihat dan saksikan bahwa tokoh-tokoh hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang penuh hikmat pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga miskin dan sederhana, karena mereka terbiasa dalam hidup sehari-hari harus menderita menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yamg mereka hayati sebagai wahana membina dan mendidik dirinya.

·   "Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, -- tetapi kamu tidak mau mendengarkan -- maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (Yer 26:4-6). Melalui nabi Yeremia kita semua diingatkan untuk senantiasa mendengarkan firman Tuhan dan kehendakNya, yang antara lain diusahakan oleh orang-orang beriman menjadi aneka aturan dan tata tertib hidup dan bekerja bersama. Dengan kata lain jika kita mendambakan desa, daerah atau kota tempat kita hidup dan bekerja dalam keadaan baik serta enak dan nikmati untuk ditinggali maupun bekerja, marilah kita taati dan laksanakan aneka tata tertib atau aturan yang berlaku. Sekali lagi kami angkat dan tekankan bahwa keunggulan hidup beriman atau beragama adalah dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam wacana atau omongan. Marilah kita rawat dengan baik rumah/tempat tinggal maupun tempat kita masing-masing, dimana setiap hari kita memboroskan waktu dan tenaga kita. Jaga dan usahakan kebersihan serta keindahan lingkungan hidup, rawat baik-baik aneka sarana-prasarana hidup atau kerja. Untuk itu hendaknya entah hidup atau kerja dihayati sebagai ibadah kepada Tuhan, sehingga lingkungan hidup, tempat kerja maupun tempat hidup bagaikan tempat ibadah, dan rekan hidup dan kerja bagaikan rekan beribadah, sedangkan merawat aneka sarana-prasarana bagaikan merawat sarana-prasarana ibadah. Bukankah sikap kita ketika sedang beribadah maupun sikap kita terhadap rekan ibadat dan sarana-prasarana ibadat penuh kasih dan syukur. Maka hendaknya dalam hidup dan kerja sehari-hari kita saling berterima kasih dan bersyukur. Jika kita saling berterima kasih dan bersyukur, maka kami percaya bahwa hidup bersama sungguh enak dan nikmat , dan dengan demikian lingkungan hidup, desa, daerah atau kota kita baik adanya, aman tenteram, tiada kejahatan sedikitpun. Semoga motto atau semboyan kota-kota di Indonesia ini, yang tertulis di jalanan, tidak hanya sekedar tertulis, tetapi menjadi kenyataan.

"Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas. Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku." (Mzm 69:5.8-10)

Ign 3 Agustus 2012

     


Rabu, 01 Agustus 2012

2 Agustus


"Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya"

(1Kor 2:1-5; Mat 10:24-27)

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah." (Mat 10:24-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Faber, imam Yesuit, sahabat St.Iignatius Loyola, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertama-tama saya minta maaf kalau hari ini saya mengambil bacaan dan tema pesta St.Petrus Faber, imam Yesuit, karena saya juga imam Yesuit. Petrus Faber adalah seorang anak gembala domba, dan baru setelah usia 10 th ia belajar membaca dan menulis. Dalam tugas belajarnya ia akhirnya belajar di Universitas Sorbone-Paris, yang terkenal waktu itu sampai sekarang, dan di universitas ini ia berkenalan dengan Ignatius Loyola serta kemudian berguru kepada Ignatius Loyola perihal Latihan Rohani atau olah kebatinan Kristiani. Dan selanjutnya ia menjadi sahabat Ignatius Loyola, gurunya, sampai mati. Petrus Faber meneladan gurunya, Ignatius Loyola, memberitakan Kabar Baik "dari atas rumah", yang berarti mengatasi melintasi batas daerah maupun suku dan bangsa alias siap sedia diutus untuk mewartakan Kabar Baik ke seluruh dunia. Semangat merasul para pengikut St.Ignatius Loyola memang siap sedia untuk memasuki daerah-daerah 'frontier' , di perbatasan aneka masalah, tantangan, suku dan bangsa, di antara ketegangan-ketegangan kehidupan atau remang-reman kehidupan untuk menanggapi sabda Yesus:"Apa yang Kutakataan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang". Yang disabdakan oleh Yesus dalam gelap berarti dalam permenungan, meditasi atau kontemplasi, dimana dalam doa-doa ini orang menerima pencerahan dan pewahyuan baru, yang selanjutnya diteruskan kepada saudara-saudarinya dimana pun dan kapan pun. Kami berharap kepada segenap umat beriman untuk tidak takut dan tidak gentar meneruskan atau mewartakan apa yang baik, benar dan suci yang diterima atau ditemukan dalam doa atau pembelajaran dan pembacaan kepada siapapun dan dimanapun dalam hidup, pekerjaan dan pelayanan sehari-hari.

·   "Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar." (1Kor 2:1-3), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. "Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan", inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Beriman kepada Yesus Kristus tanpa mengimani Dia sebagai Yang Tersalib demi keselamatan jiwa seluruh dunia, umat manusia, kiranya tidak berarti apa-apa. Mengimani Yang Tersalib berarti senantiasa siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk menghayati iman, setia pada panggilan dan tugas pengutusan, meskipun untuk itu harus menderita dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. "Jer basuki mowo beyo" = Untuk hidup mulia, bahagia dan damai sejahtera orang harus siap sedia untuk menderita dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa. Penderitaan dan pengorbanan yang mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian, secara manusia kiranya telah dihayati oleh rekan-rekan perempuan yang telah bersuami, yaitu dengan menderita sakit karena mengorbankan keperawanannya dalam relasi kasih dengan suaminya (penderitaan yang sama kiranya juga dihayati ketika sedang melahirkan anaknya). Maka benarlah bahwa dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya rekan-rekan perempuan lebih siap sedia dan rela untuk berkorban demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Marilah kita saling berkorban guna mengusahakan hidup bahagia dan damai sejahtera bersama. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibiasakan dalam hal berkorban demi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain, dengan kata lain jauhkan semangat atau sikap mental memanjakan anak-anak, yang pada giliranya akan mencelakakan mereka.

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala malaekat Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya" (Dan 3:52.58)

Ign 2 Agustus 2012