Selasa, 07 Desember 2010

9 Des - Yes 41:13-20; Mat 11:11-15

"Yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya"

(Yes 41:13-20; Mat 11:11-15)

 

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan -- jika kamu mau menerimanya -- ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (Mat 11:11-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yohanes Pembaptis memang nabi besar pada zamannya, namun Yesus lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, "yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya". Kita dalam masa adven, masa menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, dan untuk itu kita dipanggil untuk menjadi 'pendengar yang baik', "siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar". Memang dalam masa penantian yang dijiwai pengharapan kita harus mendengarkan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan hidup kita sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita diharapkan memiliki sikap terbuka dan siap siaga agar kita sungguh siap menerima kedatanganNya. Dia yang kita nantikan kedatanganNya ialah Allah 'yang melepaskan kebesaranNya atau ke-AllahanNya dan menjadi manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa', maka tanda bahwa kita terbuka dan siap sedia menerima kedatanganNya antara lain kita juga harus berani 'melepaskan aneka kebesaran atau atribut' yang dikenakan pada kita atau kita miliki. Marilah kita angkat dan utamakan dalam penghayatan hidup dan cara bertindak kita apa yang sama di antara kita, yaitu sama-sama manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Jika kita dapat menghayati apa yang sama di antara kita ini dengan mendalam, maka berarti kita siap sedia menerima kedatanganNya. Kami berharap kepada mereka yang memiliki kelekatan tak teratur pada harta benda/uang, pangkat/kedudukan/jabatan maupun kehormatan duniawi untuk bertobat dan memperbahaui diri, sehingga menjadi orang yang lepas bebas. Sikap lepas bebas dan tak memiliki kelekatan tak terhatur pada ciptaan-ciptaan lain di dunia inilah yang harus kita perdalam, perteguh dan sebar-luaskan.  


·   "Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah… , yang menciptakannya" (Yes 41:18-20). Apa yang dikatakan oleh Yesaya sebagaimana saya kutipkan di atas ini merupakan sesuatu yang membesarkan hati umat terpilih dalam rangka menuju tanah terjanji atau menantikan kedatangan Penyelamat Dunia. Maka marilah kita dalam rangka menantikan kedatangan Penyelamat Dunia mawas diri: dalam keadaan, situasi atau kondisi apapun hendaknya kita tetap berharap dan bergairah. Harapan dan kegairahan kita akan membuat hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita segar, sehat wal'afiat, dan dengan demikian kita senantiasa dalam keadaan siap sedia untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia. Kedatangan Tuhan, Penyelamat Dunia, ini bagi kita juga berarti kematian kita atau saat kita dipanggil Tuhan. Hendaknya kita juga senantiasa mengusahakan hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan setiap hari, artinya senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan kita tidak takut dan gentar, melainkan dengan penuh senyum siap dipanggil Tuhan alias meninggal dunia, karena dengan demikian akan hidup mulia selama-lamanya di sorga, yang suasananya antara lain sebagaimana digambarkan dalam kutipan di atas. Marilah kita hayati bahwa masa depan kita sungguh cerah dan menggembirakan, hendaknya tidak takut dan gentar menghadapi masa depan. Untuk itu hendaknya apa yang ada dihadapan anda saat ini sungguh dikerjakan sebaik mungkin jika itu pekerjaan, sedangkan kalau yang ada di depan kita adalah manusia marilah kita kasihi dalam keadaan atau situasi apapun.

 

"TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan"

(Mzm 145:9-13b)

Jakarta, 9 Desember 2010


Hari Raya SP Maria Dikanding Tanpa Dosa - Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA: Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

 

"Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria 'dipenuhi dengan rahmat' oleh Allah (Luk 1:28) sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh doga 'Maria dikandung tanpa noda dosa' , yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX. Bahwa Maria 'sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa' (LG 56) hanya terjadi berkat jasa Kristus: 'Karena pahala Puteranya ia ditebus secara lebih unggul' (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta mana pun Bapa 'memberkati dia dengan segala berkat RohNya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam sorga' (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapanNya" (Kamus Gereja Katolik no 491-492). Kutipan ini kiranya baik menjadi pegangan atau acuan kita dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa.

 

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."  (Luk 1:38) 

 

Jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan melalui malaikat sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya sungguh merupakan jawaban luar biasa. Secara manusiawi kita dapat membayangkan bagaimana seorang perawan tiba-tiba mengandung, padahal belum bersuami, atau seorang gadis/perawan dengan sungguh dan tulus ikhlas dihamili oleh seorang laki-laki; aneka kritik, cemoohan dan kemarahan pasti akan tertuju kepadanya. Memang sungguh mujizat dan luar biasa bahwa SP Maria dengan rendah hati menerima panggilan atau tugas pengutusan dari Tuhan untuk mengandung karena Roh Kudus dan melahirkan Sang Penyelamat Dunia, yang dinantikan kedatangan atau kelahiranNya oleh banyak orang. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita renungkan jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan tersebut.

 

"Hamba Tuhan"  adalah orang yang sungguh taat dan setia pada kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Sebagai umat beriman kita juga memiliki dimensi kehambaan dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, demikian juga hamba Tuhan, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan berarti kita hidup suci tanpa noda dosa: diri kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati saat ini kita persembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Aneka harta benda atau uang, kekerampilan, kecakapan, kecantikan, ketampanan dst.. menjadi sarana atau wahana untuk berbakti kepada Tuhan; semakin kaya akan harta benda/uang, semakin pandai, semakin berpengalaman, semakin tambah usia dst. berarti semakin suci, semakin berbakti kepada Tuhan melalui sesamanya dimanapun dan kapanpun.

 

Orang beriman yang sungguh menghayati dimensi kehambaan kiranya juga dapat menjadi teladan bagi sesamanya di lingkungan hidupnya. Segala macam jenis sapaan, sentuhan, kritik, tegoran atau perlakuan dari orang lain dihayati sebagai kasih Tuhan, dan ditanggapi dengan penuh kasih dan syukur. Maka sungguh beriman dan menghayati kehambaan berarti hidup penuh syukur dan terima kasih, tidak pernah mengeluh, menggerutu atau marah. "Jadilah padaku menurut perkataanmu"  menjadi pegangan atau pedoman menanggapi kata-kata orang lain, entah itu enak atau tidak enak. Orang lain memberi pujian maka kita bersyukur, orang lain mengritik dan marah maka kita dengan rendah hati mawas diri, orang lain memberi tahu maka kita laksanakan atau jalankan dst… Dengan demikian cara hidup dan cara bertindak orang beriman yang menghayati dimensi kehambaan dimanapun dan kapanpun menjadi warta gembira, menarik, memikat dan mempesona, mendorong orang lain untuk semakin berbakti kepada Tuhan, hidup melayani sesamanya.

 

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Ef 1:3-6)

Pujian syukur Paulus, sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama. Kutipan di atas ini rasanya senada dengan apa yang ditulis oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani (Azas Dasar), yaitu bahwa 'manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan…demi keselamatan jiwanya..dan menggunakan segala ciptaan lainnya untuk membantu mengusahakan tujuan tersebut, yaitu keselamatan jiwa'.  Sejak semula kita dipilih dan diharapkan kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan.

 

Ketika kita masih berada di rahim ibu atau bayi kiranya kita sungguh kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan. Kehadiran dan keberadaan kita sebagai bayi mungil sungguh menarik, memikat dan mempesona. Namun sungguh sayang ketika kita menjadi dewasa semuanya itu pudar kena erosi, dengan kata lain kita kurang atau tidak kudus lagi serta penuh dengan cacat dan cela. Tambah usia dan pengalaman berarti bertambah pula dosa dan kekurangan maupun kelemahan. Meskipun demikian kita tetap dikasihi oleh Tuhan, maka baiklah kami ingatkan bahwa semakin tambah usia dan pengalaman hendaknya berusaha semakin rendah hati, karena juga semakin menerima lebih banyak kasih pengampunan atau kemurahan hati Tuhan.

 

Sebagai yang terpilih dan dikasihi memang tak akan lepas dari aneka macam tantangan atau masalah serta hambatan, sebagaimana telah dilihat atau diramalkan oleh penulis Kitab Kejadian, yaitu "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kej 3:15). Ular adalah lambing kelicikan dan perempuan lambang kasih atau kerahiman (ingat perempuan memiliki rahim dan didalam rahim tumbuh berkembang buah kasih). Kelicikan berlawanan dengan kasih atau kerahiman itulah yang terjadi alam kehidupan bersama kita masa kini, atau kelicikan berlawanan dengan ketulusan atau kesucian hati. Memang licik tetapi tidak tulus atau tidak suci pasti akan merusak dan menghancurkan, sementara tulus atau suci tetapi kurang licik mungkin kurang berbuah, maka hemat saya untuk masa kini kelicikan dan ketulusan atau kesucian hati perlu disatukan atau diintegrasikan, sebagai penghayatan sabda Yesus "Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." (Mat 10:16). Semoga dengan mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa hari ini kita semakin menjadi cerdas secara spiritual.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

 

Jakarta, 8 Desember 2010

   

 


Minggu, 05 Desember 2010

7 Des - Yes 40:1-11; Mat 18:12-14

"Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak ini hilang."

(Yes 40:1-11; Mat 18:12-14)

 

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ambrosius, uskup dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua, manusia diciptakan oleh Allah, berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Maka baiklah di masa adven ini kita mawas diri perihal kebersamaan hidup kita masing-masing: keluarga, masyarakat, tempat kerja dst..: apakah ada di antara kita kurang atau tidak berkumpul dengan kita dalam aneka kesempatan seperti makan bersama, pertemuan, rekreasi dst… Pengalaman dan pengamatan kami jika ada anggota keluarga atau komunitas atau paguyuban jarang atau bahkan tidak pernah bertemu dan curhat dengan saudara-saudarinya berarti yang bersangkutan berada dalam bahaya perihal panggilan dan tugas pengutusannya. Ada kemungkinan yang bersangkutan tersesat, namun tidak merasa dirinya tersesat. Maka baiklah jika ada saudara atau saudari kita yang demikian itu hendaknya segera diingatkan untuk berkumpul dan bercurhat dengan saudara-saudarinya dalam berbagai kesempatan yang ada. Sekiranya secara phisik atau langsung sulit dilakukan baiklah kita doakan,dengan kata lain di masa adven ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk mendoakan saudara-saudari kita yang 'tersesat', dan jika mungkin mereka kita datangi dan ajak untuk kembali ke jalur atau cara hidup yang benar, sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Marilah kita semua menyadari dan menghayati bahwa pada dirinya manusia itu bersifat sosial, maka tak mungkin hidup bahagia atau damai-sejahtera jika hidup menyendiri. Sosial dari akar kata bahasa Latin socius yang antara lain berarti teman, maka bersifat sosial berarti senantiasa berteman dengan sesamanya dan membangun kehidupan bersama dalam suatu komunitas atau keluarga.


·   "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."(Yes 40:3-5). Padang gurun adalah tempat banga terpilih mengarungi perjalanan menuju tanah terjanji. Di padang gurun mereka harus menghadapi aneka tantangan dan masalah, maka  ada di antara mereka cukup banyak yang tidak sampai ke tanah terjanji, antara lain termasuk Musa yang sempat ragu-ragu di dalam perjalanannya. Dengan kata lain kutipan dari kitab Yesaya di atas kiranya juga merupakan suatu ajakan bagi kita semua untuk mawas diri: apakah melalui cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun merupakan persiapan untuk menuju 'tanah terjanji', hidup mulia kembali di sorga setelah dipanggil Tuhan nanti. Dengan kata lain apakah kita senantiasa berujud lurus dalam aneka macam langkah dan tindakan kita alias jujur, disiplin, setia dan taat. Hidup jujur dan disiplin pada masa kini hemat saya sungguh merupakan salah satu bentuk penghayatan iman yang harus kita hayati dan sebar-luaskan. Pertama-tama dan terutama marilah kita jujur terhadap diri sendiri serta disiplin diri; jika kita tidak mungkin jujur terhadap diri sendiri serta  disiplin diri maka mustahil kita mengajak orang lain jujur serta disiplin. Memang hidup jujur dan disiplin pada umumnya butuh keteladanan dari mereka yang berpengaruh dan hidup maupun kerja bersama, maka dengan ini kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan atau kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hal jujur dan disiplin. Secara khusus kami berharap kepada para pengguna jalan, entah pengendara sepeda motor, sopir maupun pejalan kaki untuk jujur dan disiplin di jalanan, sebagai tanda dan harapan bahwa kita akan selamat sampai tujuan masing-masing.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)

 

Jakarta, 7 Desember 2010


6 Des - Yes 35:1-10; Luk 5:17-26

"Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"

(Yes 35:1-10; Luk 5:17-26)

 

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan." (Luk 5:17-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Orang Farisi dan ahli Taurat tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Mesias yang dijanjikan dan telah lama ditunggu kedatanganNya, maka ketika Yesus mengampuni dosa orang yang sakit mereka berpikiran jahat. Sakit dan sehat erat kaitannya dengan dosa, mereka yang mudah jatuh sakit kiranya harus menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, sedangkan mereka yang sehat kami berharap senantiasa berpikiran positif ketika ada orang yang membantu mereka yang berdosa, sakit atau menderita. Maka baiklah di masa adven ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri perihal apa yang setiap hari kita pikirkan. Cara hidup dan cara bertindak kita sangat tergantung pada apa yang sedang kita pikirkan, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa berpikiran baik atau positif, dengan kata lain senantiasa berusaha mendengarkan dan melihat karya Roh dalam hidup sehari-hari, dalam diri manusia, tanaman, binatang maupun aneka macam peristiwa., sehingga kita juga dapat berkata "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan" Dengan sikap dan pikiran macam itu berarti kita juga siap sedia untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, di hari Natal yang akan datang.


·    "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"(Yes 35:4), demikian peringatan Yesaya kepada saudara-saudarinya, kepada kita semua umat beriman. Hidup dan bertindak baik pada masa kini memang sarat dengan tantangan, hambatan maupun masalah, maka hendaknya tidak takut menghadapi semuanya itu. "Ia sendiri datang menyelamatkannya", inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. Dengan kata lain bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan; bersama dan bersatu dengan Tuhan antara lain senantiasa berpikiran positif sebagaimana saya katakana diatas. Sikap dan hayati aneka tantangan, hambatan dan masalah sebagai sarana atau wahana untuk semakin mempertebal, meneguhkan dan memperdalam iman kita kepada Tuhan. Sebagaimana emas murni tidak terbakar atau hancur karena api yang panas, demikian juga bersama dan bersatu dengan Tuhan tak akan tergoyahkan oleh aneka macam masalah, tantangan dan hambatan, melainkan masalah, tantangan dan hambatan semakin meneguhkan iman kita kepada Tuhan. Janganlah takut menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. Takut menghadapi tantangan, masalah dan hambatan tidak akan tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa dalam hal iman atau cerdas secara spiritual. Kami berharap sikap positif sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja keteladanan orangtua sungguh dibutuhkan. Hendaknya dibangun dan diperdalam sikap positif satu sama lain antar anggota keluarga.

 

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan" (Mzm 85:10-14).

Jakarta, 6 Desember 2010      

    


Sabtu, 04 Desember 2010

4 Des - Yes 30:19-2123-26 ; Mat9:35-10:16-8

Pergilah dan beritakanlah bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat
Yes30:19-2123-26 ; Mat9:35-10:16-8

"Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.…..pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-Cuma" (Mat9:35-10:16-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

"Madecer" = Masa depan cerah, itulah motto yang berlaku bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, artinya tidak akan kekurangan pekerjaan atau tugas alias tak akan menganggur. Namun sayang bahwa jumlah imam, bruder atau suster mengalami kemerosotan, demikian juga kemerosotan kwalitas. Kemerosotan tersebut antara disebabkan oleh sikap mental materialistis yang begitu menjiwai banyak orang masa kini atau oleh gerakan keluarga berencana dimana dua atau satu anak cukup. Maka dengan ini kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dibina perihal kepekaan sosial, perhatian terhadap yang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Dengan pembinaan sosial kami berharap anak-anak tumbuh berkembang menjadi 'man or woman with/for others'. Tentu saja kami juga berharap kepada para orangtua jika anak-anaknya atau salah satu anaknya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster tidak dilarang, mengingat dan memperhatikan bahwa pada masa kini yang sering merasa berat ketika anak ingin menjadi imam, bruder atau suster adalah orangtua. Anak-anak adalah anugerah Tuhan, maka baiklah ketika Tuhan memanggilnya untuk menjadi imam, bruder atau suster dengan jiwa besar dan hati rela berkorban didukung dengan sepenuh hati. Kami juga berharap kepada seluruh umat untuk mendukung hidup dan panggilan para imam, bruder atau suster, entah dengan mendoakannya atau memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan karya pelayanannya. Ketika melihat atau mendengar ada imam, bruder atau suster nampak kurang setia pada panggilannya hendaknya sedini mungkin diingatkan.

"Walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri" (Yes30:20-21). Kutipan dari kitab Yesaya di atas ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk membuat mata dan telinga kita peka terhadap sapaan atau sentuhan Tuhan melalui saudara-saudari kita maupun aneka macam peristiwa di lingkungan hidup kita. Sapaan atau sentuhan Tuhan tersebut dapat berupa ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, antara lain membantu mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita karena menjadi korban bencana alam atau musibah. Bukalah mata dan telinga anda terhadap apa yang terjadi di lingkungan hidup anda!. Ketika ada ajakan untuk berbuat baik dan berkorban bagi orang lain hendaknya segera diikuti dan dihayati, dan jangan ditolak atau dihindari. Ingatlah perbuatan dan pengorbanan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan berkurang melainkan semakin bertambah, artinya kita semakin senang berbuat baik dan berkorban dimanapun dan kapanpun. "Berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri", demikian peringatan Yesaya. Karyu Roh memang dapat kita dengar dan lihat, namun kita tidak tahu ke arah mana Roh menghendaki kita berjalan, kita tidak tahu. Yang dibutuhkan dari kita adalah kesiap-siagaan untuk melakukan sesuatu yang baik atau kehendak Roh Kudus. Masa adven juga masa untuk mawas diri perihal kesiap-siagaan kita sebagai umat beriman dalam menanggapi panggilan Tuhan.

"Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi." (Mzm147:1-6)

Jakarta, 4 Desember 2010

Minggu Adven II - Yes 11:1-10; Rm 15:4-9; Mat 3:1-12

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Mg Adven II : Yes 11:1-10; Rm 15:4-9; Mat 3:1-12


Menjelang ulangan umum atau ujian pada umumnya para pelajar atau mahasiswa sungguh giat belajar, dengan harapan sukses dalam ulangan umum atau ujian. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang akan menikah: berbagai persiapan diadakan, entah untuk upacara pernikahan atau pesta pernikahan. Dalam persiapan pernikahan yang tak kalah penting adalah mempersiapkan undangan: siapa saja yang akan diundang. Dalam mempersiapkan nama-nama yang akan diundang hadir dalam upacara maupun pesta pernikahan pada umumnya orang membuka hati, jiwa, akal budi dan tenaga/kekuatannya untuk mengingat-ingat atau mengenangkan nama-nama, sahabat dan handai taulan yang akan diundang. Dengan kata lain suasana 'menjelang' pada umumnya orang berusaha 'membersihkan diri dan lingkungan hidupnya': bersih diri dan lingkungan. Masa adven juga masa 'pembersihan diri dan lingkungan' alias pertobatan atau pembaharuan diri, maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita melaksanakan pertobatan atau pembaharuan diri.

 

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 3:2)

"Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan" (Yoh 3:8), demikian kutipan seruan Yohanes Pembaptis kepada orang-orang Farisi dan Saduki, yang minta dibaptis. Pembaptisan juga berarti pertobatan atau pembaharuan hidup, dibaptis berarti menerima anugerah atau rahmat Allah untuk meninggalkan cara hidup lama yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan kemudian memeluk hidup baru sesuai dengan kehendak Allah. Dalam pembaptisan kita berjanji "hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan", maka baiklah di masa adven ini kita mawas diri perihal penghayatan rahmat atau janji baptis tersebut.  Apakah rahmat atau anugerah pembaptisan yang telah kita terima menghasilkan buah-buah sebagaimana diharapkan:


1)    Menolak semua godaan setan. Godaan setan pada umumnya menggejala dalam rayuan atau tawaran harta benda/uang, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi. Cukup banyak orang jatuh karena godaan-godaan ini, sehingga yang bersangkutan tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusannya; bahkan jika dicermati sementara tokoh agama pun (imam, bruder, suster, para anggota dewan paroki dst..) mengikuti godaan tersebut. Mereka hanyut dalam usaha dan kerja keras untuk membangun kerajaannya sendiri, bukan Kerajaan Allah.

Memang secara konkret dalam pelaksanaan tugas atau penghayatan panggilan kita tak akan terlepas dari urusan harta benda/uang, kedudukan/jabatan atau kehormatan duniawi, dengan kata lain kita tak mungkin menolak 100%. Kita terima dan hayati harta benda/uang, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi sebagai sarana atau wahana menyucikan diri, mendukung penghayatan iman dan panggilan kita masing-masing. .Dengan kata lain semakin kaya akan harta benda atau uang, berkedudukan dan terhormat secara duniawi, hendaknya juga semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, hidup dan bertindak dijiwai oleh syukur dan terima kasih. Selanjutnya syukur dan terima kasih tersebut kita wujudkan dalam pelayanan kepada sesama atau pengabdian kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita.  


2)   Hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja. "Manusia diciptakan untuk mengabdi, menghormati dan memuliakan Tuhan Allah", demikian kutipan  dari Arah Dasar Latihan Rohani St.Ignatius Loyola. Ajakan ini kiranya dapat kita wujudkan sebagai sesama manusia saling mengabdi, menghormati dan memuliakan dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita dipanggil untuk saling menjunjung tinggi harkat martabat manusia di dalam hidup sehari-hari. Untuk itu hendaknya kita menjauhkan diri dari aneka macam bentuk pelecehan terhadap harkat martabat manusia seperti membenci, memarahi, memperkosa dst.. Secara khusus kami ingatkan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, entah yang belum berkeluarga atau sudah berkeluarga sebagai suami-isteri: hendaknya tidak terjadi pemerkosaan dalam hubungan seksual. Hendaknya jangan menjadi hamba nafsu seksual yang tak terkendalikan, sebagaimana masih marak dalam relasi antara laki-laki dan perempuan masa kini.

 

"Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus " (Rm 15:5-6)      

 

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Roma di atas ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Sebagai orang beriman kita diingatkan untuk dengan tekun saling menghibur, membangun dan memperdalam kerukunan serta memuliakan Allah dalam hidup sehari-hari. Kerukunan atau hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita, umat manusia, sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini, mengingat masih maraknya permusuhan dan tawuran di sana-sini yang mengakibatkan penderitaan manusia, bahkan juga ada korban yang meninggal dunia.

 

Dalam membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati ini, pertama-tama saya mengajak para suami-isteri untuk mawas diri serta dapat menjadi teladan atau saksi, mengingat anda berdua pernah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Saya percaya bahwa anda sebagai suami-isteri saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara lain anda menghayati saling mengasihi tersebut dalam persetubuhan/hubungan seksual, yang ada kemungkinan berbuah kasih, seorang anak, sebagai anugerah Tuhan. selanjutnya kami mengingatkan kita semua bahwa masing-masing dari kita adalah buah kasih, atau yang terkasih, dapat hidup, tumbuh dan berkembang seperti saat ini hanya karena dan oleh kasih. Karena masing-masing dari kita adalah yang terkasih atau buah kasih, maka bertemu dengan siapapun berarti yang terrkasih bertemu dengan yang terkasih dan dengan demikian otomatis saling mengasihi, membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan yang sejati. Hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati pasti saling menghibur dan membahagiakan.

 

Kita semua juga dipanggil untuk dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah, artinya yang termulia dalam kebersamaan kita adalah Allah dan kita semua sama-sama hamba atau pelayan: sebagai sesama manusia kita hidup dan bertindak saling melayani. Berrefleksi perihal 'melayani' baiklah kita melihat dan mengamati apa yang dihayati oleh seorang pelayan yang baik di dalam keluarga atau komunitas. Ingat pelayan yang tidak baik pada umumnya langsung dipecat tanpa pesangon, yang bersangkutan tidak layak menjadi pelayan. Berkali-kali saya angkat perihal cirikhas pelayan atau pembantu rumah tangga yang baik antara lain: sederhana, tanggap, peka terhadap kebutuhan orang lain atau yang dilayani, tidak pernah mengeluh atau marah, membahagiakan, dst… Ciri-ciri pelayan yang baik inilah yang hendaknya juga kita hayati dalam hidup saling melayani. Tidak pernah mengeluh dan marah inilah yang kiranya baik kita hayati dan sebarluaskan. Orang yang mudah mengeluh dan marah pada umumnya hanya mengikuti selera pribadi, sedangkan yang tidak pernah mengeluh atau marah adalah orang yang setia pada panggilan dan tugas pengutusan dalam keadaan dan situasi apapun serta dimanapun.

 

"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!  Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!"

(Mzm 72:1-2.7-8)

    

Jakarta, 5 Desember 2010